Selasa, 31 Desember 2013

Mitos Seputar Bulan Safar

bulan safar
Mitos Seputar Bulan Safar | Jika ada sobat blogger yang urang sunda pasti akan tahu nama bulan ini, Safar. Yah bulan Safar adalah salah satu bulan Islam dalam pengucapan lidah orang Sunda. Arti dari kata Safar berasal dari Shafar, yang memiliki makna “kosong.” Bangsa Arab pra-Islam sendiri mempunyai tradisi bulan Safar merupakan bulan peperangan. Masyarakat Arab pada bulan ini tidak banyak beraktivitas dan berdagang karena terganggu peperangan yang berkecamuk antar kabilah. Dari peristiwa itu muncul beragam mitos negatif di seputar bulan Safar.

Seiring dengan masuknya Islam ke tatar Sunda, mitos-mitos itu pun ikut meresap dalam pemikiran masyarakat. Orang Sunda menganggap pamali untuk mengadakan pesta perayaan, seperti hajat pernikahan atau sunatan anak di bulan Safar. Selain itu juga mereka percaya akan turun berbagai penyakit dan musibah di bulan ini dan sebagai puncaknya terjadi pada hari Rebo wekasan atau hari rabu terakhir pada bulan safar. Ada lagi mitos bahwa anak yang lahir pada bulan Safar ini akan terkena sasapareun alias anak yang sial, meureun ceuk urang sunda mah.

Bulan Bala

Bulan Safar juga diyakini sebagai bulan bala. Mitos ini sepertinya sudah mendarah daging di tengah pemahaman masyarakat kita. Mereka mempercayai bahwa pada bulan safar ini turun 70.000 penyakit untuk satu tahun ke depan. Berbagai musibah dan bencana juga banyak muncul di bulan ini. terjadinya banyak bencana pada bulan safar ini sepertinya semakin menguatkan anggapan sebagian masyarkat tentang kebenaran mitos ini.

Puncak dari semua masa turunnya bencana terjadi pada hari Rebo wekasan  yaitu hari Rabu terakhir di bulan Safar. Oleh karenanya untuk melindungi diri dan keluarga dari berbagai bala tersebut masyarakat Sunda melakukan sedekah dan ritual tolak bala. Dengan bersedekah kepada fakir miskin mereka meyakini bala bencana akan menjauh dan mereka terbebas darinya. Sedangkan ritual tolak bala dilangsungkan dengan cara memanjatkan doa dan mandi di pantai, sungai atau tempat-tempat keramat tertentu untuk membuang sial. Sekalipun ritual mandi ini sudah terkikis zaman dan semakin jarang dilakukan masyarakat tapi ritual memanjatkan doa penolak bala di malam Rebo wekasan masih tetap dijaga dan diamalkan.

Tradisi Ngaleupeut

Leupuet adalah sejenis makanan tradisional yang terbuat dari ketan yang di rebus dan dibungkus dengan janur kuning. Leuput biasanya berteman dengan kupat, yaitu yang terbuat dari beras dan dimasak padat yang biasanya berbentuk jajaran genjang. Tradisi ini ditengah masyarakat sunda sudah umum adanya. Setiap rebo wekasan pasti banyak kupat yang hilir mudik dari satu rumah ke rumah yang lainnya.

Tradisi ini adalah sebagai bentuk menebar kebaikan dengan memberi sesutu kepada tetangga. Yang tentunya ini banyak dikaitkan dengan bulan safar bulan bala, sehingga ramai-ramai mereka membuat kupat yang kemudian dibagi-bagikan. Saya sendiri belum pernah membuat kupat yang dikhususkan untuk menolak bala pada bulan safar ini. Tapi kalo makan kupatnya sih sering hehe….

Bulan Safar Menurut Pandangan Islam

Dalam beribadah dan menyikapi apa pun, umat Islam diwajibkan mengikuti Al-Quran dan Sunnah Rasul. Amal ibadah yang tidak diperintahkan dan dicontohkan Rasul tidak akan diterima oleh Allah SWT alias mardud (tertolak). Seperti dalam sebuah hadits dikatakan :
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Amalan yang tertolak itu termasuk khurafat (tahayul, mitos, dongeng, cerita rekaan). Khurafat adalah salah satu bentuk penyelewengan dalam akidah Islam. Salah satunya, khurafat berkenaan dengan bulan Safar (Shofar, Shafar). Pada zaman Jahiliyah, ada kepercayaan bahwa bulan Safar adalah bulan sial. Kepercayaan atau mitos/tahayul tersebut langsung dibantah oleh Rasulullah Saw.

Kepercayaan bahwa Safar bulan sial atau bulan bencana masih saja dipercaya sebagian umat. Padahal, Rasul sudah menegaskan mitos itu tidak benar. Dan salah satu amalan khurafat yang muncul ialah “Pesta Mandi Safar”. Jika tiba bulan Safar, umat Islam mengadakan upacara mandi beramai-ramai dengan keyakinan hal itu bisa menghapuskan dosa dan menolak bala. Biasanya, amalan mandi Safar ini dilakukan pada hari Rabu minggu terakhir dalam bulan Safar yang diyakini merupakan hari penuh bencana.

Amalan mandi Safar untuk tolak bala dan menghapus dosa itu merupakan kepercayaan penganut Hindu melalui ritual “Sangam” yang mengadakan upacara penghapusan dosa melalui pesta mandi di sungai. Umat Islam harus menghormati keyakinan mereka, tapi tidak boleh menirunya.

Hingga kini pun masih ada umat Islam yang tidak mau melangsungkan pernikahan pada bulan Safar karena percaya terhadap khurafat tersebut. Sebuah keyakinan yang dapat menjerumuskan kepada jurang kemusyrikan. Bahkan, sampai ada “amalan khusus”, misalnya hari Rabu membaca syahadat tiga kali, istighfar 300 kali, ayat kursi tujuh kali, surat Al-Fiil tujuh kali, dan sebagaiya. Itu semua adalah amalan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat.

Khurafat bulan Safar berikutnya adalah larangan menikah dan pertunangan, menghalangi bermusafir atau berpergian jauh, Rabu minggu terakhir bulan Safar puncak hari sial, upacara ritual menolak bala dan buang sial di pantai, sungai atau rumah (Mandi Safar), membaca jampi serapah tertentu untuk menolak bala sepanjang Safar, menjamu makan makhluk halus yang dikatakan penyebab sesuatu musibah, menganggap bayi lahir bulan Safar bernasib malang, Safar bulan Allah menurunkan kemarahan dan hukuman ke atas dunia. Semuanya itu tidak benar dan umat Islam wajib mengingkari khurafat tersebut.

Berbuat baik tidak hanya dikaitkan untuk menolak bala pada bulan safar saja. Namun kapan dan dimanapun kita senantiasa bisa menebar kebaikan. Semua hari dan bulan adalah baik karena milik Allah semata. Ditangan-Nya lah nasib manusia ditentukan. Tidak ada hal yang luput dari apa yang sudah ditakdirkan. Baik dan buruk hanya Allah yang menentukan.

Semoga bermanfaat dan happy blogging….



Label:

Minggu, 29 Desember 2013

Catatan Penghujung Tahun

dream book
image dari google
Catatan Penghujung Tahun | Postingan dipenghujung tahun ini tidak ada yang special untuk di tuliskan. Hanya sebuah renungan untuk diri admin sendiri dan mudah-mudahan sedikit bermafaat untuk mengingatkan sobat dan sobit semua. Tak terasa sebentar lagi kita akan memasuki tahun yang baru, tentunya saat ini masing-masing dari kita sudah mempunyai resolusi untuk tahun yang akan datang. Dengan harapan segala apa yang dicitakan akan dapat terwujud sesuai dengan keinginan. Tahun depan adalah tahun harapan buat semua orang, tentunya tahun yang harus lebih baik daripada tahun yang kemarin. Karena barang siapa hari ini lebih baik maka ialah orang yang beruntung, tapi barang siapa yang hari ini sama saja atau bahkan lebih buruk maka dialah orang yang merugi.

Pastinya kita semua tidak mau untuk disebut sebagai orang yang merugi bukan?. Semua dari kita menginginkan kesuksesan, baik secara matetil ataupun moril. Untuk menyongsong datangnya tahun yang baru tentunya kita harus mempersiapkan segala sesuatunya. Apa yang menjadi tujuan kita namun belum terlaksana ditahun ini tentunya menjadi catatan agar tidak terulang kembali. Sedikit catatan, untuk memulai langkah positif di tahun depan tentunya minimal kita harus mempersiapkan hal-hal sebagai berikut :

Persiapkan Dream Book

Mungkin istilah ini tidak asing lagi kita dengar. Dream book bisa diartikan adalah buku impian. Buku ini tentunya bukan berisi dongeng-dongeng yang membuai sebelum tidur, tapi dream book ini adalah berisi resolusi dan cita kita ditahun yang akan datang atau selama kita hidup. Segala apa yang menjadi keinginan kita, tuangkanlah dalam dream book ini sebagai navigasi kita untuk melangkah dan meraih cita yang kita inginkan.

Skala Prioritas

Dalam hidup tentunya kita mempunyai banyak keinginan. Tapi sebagai manusia yang banyak mempunyai keterbatasan tidak mungkin untuk meraih segala keinginan kita dengan waktu yang sangat terbatas. Oleh karenanya haruslah ada skala prioritas terhadap keinginan atau cita kita tersebut. Pilih mana yang menjadi tujuan pertama di tahun depan untuk diwujudkan. Dengan mengurutkan mana-mana yang lebih penting untuk didahulukan tentunya menjadi lebih mudah dan terarah untuk mencapainya.

Usaha dan Doa

Setelah kita menuliskan segala apa mimpi-mimpi kita, tentunya yang tidak boleh terlupakan adalah berusaha dan berdoa. Usaha disini artinya usaha yang maksimal dan optimal. Segala sesuatunya memerlukan waktu, tenaga dan fikiran untuk mewujudkannya. Tidak mungkin kita punya keinginan namun diam saja tanpa ada usaha untuk meraihnya. Usaha yang sungguh-sungguh disertai dengan doa Insaa Allah bisa membuahkan hasil yang kita inginkan. Berusaha tanpa doa adalah orang yang sombong, tapi berdoa tanpa usaha adalah orang nekat.

Semoga kita bisa meraih segala resolusi kita ditahun yang akan datang. Yang lebih penting lagi, pergantian tahun adalah untuk sarana muhasabah dan berkontempelasi sejenak terhadap apa yang sudah kita lakukan setahun belakangan, bukan saatnya kita hura-hura dan menebar maksiat. Mohon maaf jika ada kata-kata kurang berkenan dalam tulisan ini.

Semoga bermanfaat dan happy blogging….





Label:

Rabu, 18 Desember 2013

Wani Piro, Ideologi Atau Penyakit?

wani piro
gambar dari google
Wani Piro | Pernah liat iklan rokok Djarum 76 di tipi? Jika pernah melihatnya tentunya kita sering mendengar kalimat seperti ini. “Pengen sogokan hilang dari muka bumi”, kemudian dijawab :”bisa diatur, wani piro?.  Yah meskipun tidak ada hubungannya antara rokok dengan kalimat tersebut. Tagline “wani piro” begitu akrab di telinga setiap orang. Ungkapan itu seringkali meluncur bahkan dari mulut anak-anak kecil baik secara serius maupun guyonan. Ketika diperintahkan untuk melakukan suatu pekerjaan misalnya, maka jawaban yang muncul adalah “wani piro”?. Mereka menuntut upah untuk tugas yang dibebankan sehingga yang timbul adalah hilangnya rasa keikhlasan untuk menolong sesama. Secara luasnya dialog tersebut memiliki sebuah makna alias sindiran terhadap perilaku masyarakat mulai dari pejabat pemerintah sampai masyarakat biasa yang selalu UUD  alias ujung-ujungnya duit. Loh kok ujungnya duit, memangnya wani piro itu apa artinya?

Buat sobat blogger yang asli orang jawa tentunya sudah paham tentang arti dari wani piro ini. Wani artinya adalah berani dan piro artinya adalah berapa. Jadi arti dari wani piro adalah “Berani Berapa”. Kalimat ini jelas, yang dimaksud berani berapa adalah berani bayar berapa. Tapi sebenarnya tidak ada yang salah dari kalimat ini jika memang dikaitkan dengan dunia kerja. Sebagai seorang frofesional dalam pekerjaan tentunya harus sesuai apa yang dia kerjakan dengan seberapa besar bayarannya. Dan itu adalah memnag menjadi haknya untuk menerima bayaran sesuai dengan hasil pekerjaannya. Wani piro disini adalah dalam hal yang positif.

Namun wani piro jika dikaitkan dengan berani bayar berapa untuk memuluskan sesuatu maka bisa dikatakan bahwa ini adalah sebuah penyakit akut bangsa ini. Suap atau sogok menyogok biasanya identik dengan kalimat wani piro ini. Jika sudah masuk ranah ini maka setanlah yang biasanya merayu manusia untuk melakukan kesalahan termasuk suap atau korupsi ini, lantas bagaimana kalau setan yang meminta suap? Setan sudah kehilangan pekerjaan dan berekspansi dengan pekerjaan manusia karena pekerjaannya banyak yang telah diambil alih oleh manusia.

Uang kadangkala menjadia berhala yang  begitu dipuja. Karena uang bagi penganut ideology ini adalah segalanya. Pekerjaan tidak akan jalan tanpa uang. Sesuatunya tidak akan lancar tanpa dengan uang. Lalu untuk apa uang itu? Jawabannya kepentingan. Kepentingan manusia mulai dari urusan perut sampai urusan prestise dan aktualisasi. Urusan perut terjadi saat terjadi tawar menawar membeli kebutuhan pokok yang alot dan biasanya diakhiri dengan kalimat, ya sudah Anda berani berapa? Praktek wani piro di sini tentu tidak mendatangkan masalah karena dilakukan terbuka dan tidak ada pihak yang dirugikan.

Nah praktek wani piro yang merugikan terjadi guna melancarkan sesuatu urusan atau masalah meskipun awalnya tersumbat dan bahkan menurut akal adalah tidak mungkin bisa gol. Misalnya kita punya urusan baik bisnis, masalah hukum, pajak, sampai urusan sepele kuncinya adalah duit, dengan lembaran-lembaran duit ini semua menjadi mulus. Praktek wani piro ini terjadi di semua lembaga pemerintahan baik di eksekutif, legislative maupun Judikatif. Berapa banyak gubernur,walikota, bupati, anggota DPR atau DPRD, jaksa, hakim dan pengacara yang masuk penjara karena persoalan uang. Yang lebih parah lagi adalah para pengadil dan penegak hukum tidak luput dari penyakit wani piro ini. Jika penegak hukum saja sudah hilang hati nuraninya, maka “Apa Kata Dunia”?.

Bangsa ini telah menjelma menjadi bangsa yang mewajarkan tradisi “amplop alias angpaw” dalam segala urusannya, meski sebenarnya urusan itu telah tercover dalam anggaran resmi sebuah institusi pemerintahan, ataupun justru tidak perlu diberikan tip karena telah menjadi tanggung jawab pekerjaan seseorang. Beda antara hadiah dan sogokpun menjadi samar dengan tanpa disengaja ataupun tidak.
Banyak urusan hanya bisa lancar dengan uang. Bangsa ini juga lebih menyukai jalan pintas untuk mendapatkan sesuatu dengan menghalalkan segala cara, dibandingkan harus bersusah payah berusaha mendapatkannya dengan cara normal, wajar, dan lebih beradab. Kasus-kasus korupsi yang diekspos berbagai media belakangan ini menunjukan bahwa banyak pejabat dan wakil rakyat negeri ini kehilangan kepekaannya terhadap nasib rakyat dan kepeduliannya kerugian negara.


Banyak kasus-kasus ketidak adilan di negeri ini. Pejabat dan konglomerat yang sudah jelas-jelasa salah dimata publik dengan enaknya sampai saat melenggang bebas. Kuncinya adalah mereka wani piro. Lihatlah bagaimana kasus Century, Hambalang, dan BLBI yang entah menguap sampai dimana kasusnya. Namun jika  yang menjadi korbannya adalah rakyat miskin atau tidak punya pengaruh meskipun kesalahannya tidak seberapa berat . Ketika mereka terjerat kasus hukum sepertinya sulit lolos. Ketidak adilan ini salah satunya adalah disebabkan karena mereka tidak bisa menjawab pertanyaan wani piro?

Entah bagaimana kita dapat memotong idiologi wani piro sehingga tidak terus-terusan merusak pola fikir masyarakat. Yang jelas perlu keputusan politik yang komprehensif yang mencakup kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Yang lebih penting lagi adalah IBDA’ BINAFSIK, atau mulailah dari diri sendiri dengan membentuk budaya jujur. Namun membentuk budaya jujur tidaklah mudah, sesulit menjadi shaim sejati di tengah masyarakat bangsa ini. Tetapi jika gerakan laku jujur ini berjalan dan sukses, tidak ada yang diuntungkan kecuali diri kita sendiri. Ketentraman, kedamaian, keamanan, dan keteraturan sosial akan menjadi atmosfir yang melingkupi kehidupan berkeluarga, bermasyakat dan berbangsa.

Semoga bermanfaat dan happy blogging…..



Label:

Minggu, 08 Desember 2013

Kenapa Kebaikan Harus Ditunda-Tunda

polwan
Dua orang Polwan Inggris
Kenapa Kebaikan Harus Ditunda-Tunda | Menjilat ludah sendiri adalah sebuah peribahasa Indonesia yang artinya meminta kembali apa yang sudah diberikan. Jijik ngga jika ludah yang keluar dari mulut kita kemudian kita jilati kembali. Iiihhh pastinya jijik dong, dan siapapun orangnya sepertinya tidak ada yang mau untuk menjilati ludahnya sendiri. Karena ludah adalah barang yang kotor dan menjijikan. Begitu juga dengan ucapan yang telah kita lontarkan dari mulut kita namun tidak sesuai dengan ucapan atau bahkan apa yang diucapkan ditarik kembali sama halnya dengan kita memberikan hadiah kepada orang lain tapi kita minta kembali.

Seperti berita beberapa waktu terakhir ini, penundaan jilbab polwan sungguh sangat mencengangkan oleh semua pihak. Karena Sebelumnya, sejumlah kalangan menyambut gembira pernyataan Kapolri bahwa Polwan boleh segera berjilbab mulai 20 Nopember 2013, meskipun belum ada Peraturan Kapolri (Perkap) darinya. Namun, baru saja gelombang jilbab Polwan semarak di berbagai daerah, terbit telegram rahasia (TR) bertanggal 28 Nopember 2013 mengimbau kepada polwan untuk tidak terlebih dahulu berjilbab sebelum anggaran penyediaan hijab disediakan oleh parlemen. Selama aturan jilbab belum selesai dirumuskan, polwan diminta untuk tidak dulu menggunakan jilbab selama berdinas. TR ini sendiri ditandatangani oleh Wakapolri Komjen Pol Oegronseno.

Aneh bin ajaib bukan, ditengah semaraknya Pekan Kondom Nasional beberapa waktu lalu, ternyata jilbab polwan malah ditunda. Apakah mungkin ini ada intervensi dari pihak-pihak yang lain atau mungkin ada udang dibalik batu. Sungguh sangat disayangkan memang kenapa ini bisa terjadi dinegara kita yang mayoritas adalah muslim. Pemakaian jilbab adalah Hak Asasi Manusia dan dilindungi oleh konstitusi. Penggunaan jilbab juga merupakan sebuah trend penghormatan internasional, karena di Negara-negara Eropa juga sudah lama membolehkan polisi wanitanya mengenakan jilbab, termasuk di Inggris, Kanada, Swedia, Victoria Australia, dan lain-lain. Bahkan Negara tetangga kita Malaysia, mereka lebih toleran dengan peraturan mengenakan jilbab bagi polisi wanitanya.

Lalu ada apa dengan Kepolisian di Negara kita ini. Sudah carut marut Negara karena krisis keprcayaan terhadap petinggi-petinggi Negara karena banyak yang terlibat korupsi, legalisasi kondom sebagai alat porstitusi, tapi justru perbuatan baik dengan polwan berjilbab malah ditunda- tunda. Alasannya adalah karena anggaran dan belum adanya peraturan yang jelas. Memang sih semua perlu ada aturannya, namun apakah ini tidak mengecewakan bagi para polwan yang sudah antusias untuk mengenakan jilbab dalam bertugasnya.

Larangan Menunda Kebaikan

Menunda-nunda berbuat baik adalah perbuatan yang tidak diperbolehkan, karena ini adalah hal yang harus disegerakan. Sebagaimana rosulullah bersabda yang artinya : “Bersegeralah kalian untuk beramal sebelum datangnya tujuh perkara. Apakah kamu harus menantikan kemiskinan yang dapat melupakan, kekayaan yang dapat menimbulkan kesombongan, sakit yang dapat mengendorkan, tua renta yang dapat melemahkan, mati yang dapat menyudahi segala-galanya, atau menunggu datangnya Dajjal, padahal ia adalah sejelek-jelek sesuatu yang ditunggu, atau menunggu datangnya hari kiamat, padahal kiamat adalah sesuatu yang amat berat dan amat menakutkan .” (HR.Turmudzi)

Menunda-nunda pemakaian jilbab saya rasa adalah termasuk perbuatan yang menunda-nunda kebaikan. Apapun alasannya ini tidak masuk akal dan sungguh sangat mengecewakan banyak pihak termasuk polwan itu sendiri. Mereka tidak berani untuk menyuarakan aspirasinya karena mereka taat aturan dan mungkin takut terkena sanksi dari atasan.

Sampai Kapan Penundaan Hijab Bagi Polwan

Seperti saya uraikan diatas bahwa pernyataan Kapolri yang membolehkan para Polisi Wanita untuk berjilbab telah disambut gembira oleh semua pihak, namun secara mengejutkan ternyata pernyataan ini dibatalkan karena terbitnya telegram yang menyatakan bahwa jilbabisasi untuk polwan ditunda. Nah bukankah ini seperti perbahasa tadi yaitu menjilat ludah sendiri.

Namun semoga ini tidak ada maksud apa-apa dibalik penundaannya. Jika karena tidak ada anggaran, maka rakyat yang akan iuran. Jika karena desain yang belum jelas, semoga bisa secepat mungkin menemukan desainnya sehingga tidak ada kesan menyengajakan menunda-nunda kebaikan yang justru akan melukai rakyat Indonesia yang rindu akan kesejukan. Mungkin lebih bijak jika aturan ini tetap berjalan dan aturan sesegera mungkin dibuat, sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Semoga dengan semakin cepatnya proses hijabisasi bagi para polwan bisa menjadi pelipur lara dikala krisis kepercayaan semakin menggerogoti para petinggi Negara ini. Malu dong sama Negara-negara sebelah yang lebih toleran terhadap Hak Asasi Manusia, padahal mereka adalah minoritas muslimnya.

Semoga bermanfaat dan happy blogging……

Label: