Sabtu, 22 Februari 2014

Apa Iya Rumput Tetangga Lebih Hijau Daripada Rumput Sendiri

rumput hijau
image dari sini 
Rumput Tetangga Lebih Hijau Daripada Rumput Sendiri | Mungkin sahabat pernah melihat iklan rokok ditipi yang menceritakan wedus iri sama rumput wedus yang lain karena saking hijaunya, dan si wedus itu merebut rumput milik temannya? Yah itu sebenarnya adalah gambaran dari kehidupan manusia dalam keseharian. Lalu apa sebenarnya makna dari ungkapan ini?

Makna Peribahasa Rumput Tetangga Lebih Hijau Daripada Rumput Sendiri adalah apa yang dimiliki orang lain biasanya akan terlihat lebih baik atau lebih indah daripada apa yang kita miliki. Banyak orang bilang dan tidak sedikit yang yakin kalau rumput tetangga lebih hijau. Mungkin ada diantara kita yang berfikir seperti ini :

  • Ah, alangkah enaknya yah punya mobil, kemana-mana ngga kehujanan, adem didalam mobil yang pake AC-nya.
  • Wah enak banget yah punya rumah besar, tidur pasti nyaman tiap malam, tidak pernah kebocoran.
  • Wih enak banget yah kerjaannya, tidak usah banting tulang dan peras keringat tapi gajinya besar, tidak seperti saya yang tiap hari banting tulang, kepala di kaki, kaki dikepala, tapi gaji ya segini-gini saja.

Dari semua contoh diatas terlihat bahwa ini adalah sudut pandang materi. Semuanya enak karena materi yang dipunya. Lalu apakah memang benar jika rumput tetangg itu lebih hijau dari rumput dihalaman rumah kita? Jawabannya tentu bisa bervariatif, tergantung dari sudut mana kita memandang. Jika kita memandang secara materi seperti contoh diatas saya yakin bahwa pasti rumput-rumput tetangga akan selalu terlihat hijau daripada milik kita. Karena bicara masalah dunia pastilah tidak aka nada habisnya. Atau jangan-jangan kita salah pake kacamata, kacamata hijau misalnya ketika melihat rumput orang lain, sehingga semuanya terlihat hijau. Dan ketika melihat pekarangan sendiri memakai kacamata warna coklat, sehingga terlihat selalu gersang.

Syukur Adalah Intinya

Namun dari akar persoalan yang ada mungkin intinya adalah tentang rasa bersyukur dengan apa yang kita miliki. Bagaimana mengatur diri dan terus mensyukuri apapun yang ada dihadapan kita. Untuk hal ini, tidaklah mudah. Sebagai manusia sering sekali kita lupa untuk bersyukur meskipun dia adalah seorang yang kelihatan sukses dihadapan orang lain. Hal ini lebih kepada hubungan vertikal dibanding hubungan horizontal sesama manusia.

Semuanya Memerlukan Proses

Kesuksesan seseorang itu hanyalah penampakan saja. Teman kita misalnya sudah memiliki harta yang melimpah, rumah bertingkat empat, istri cantik memikat, mobil yang mengkilat-kilat dan sebaginya. Kadang kita hanya melihat keberhasilannya saja. Kita tidak mengindahkan proses dibalik itu dan melompat kepada kesimpulan bahwa dia lebih sukses dan lebih berhasil dari kita. Yang tidak pernah kita tahu mungkin teman kita menabung dan menyicil berat untuk memiliki mobil dan rumah yang dimilikinya

Harta Bukanlah Sebuah Tolak Ukur

Sering kali tolok ukur yang digunakan untuk sebuah kesuksesan adalah materi berupa rumah mewah, mobil mewah, harta, tahta dan lain sebagainya. Seperti sudah diungkapkan diatas bahwa harta tidaklah akan membuat manusia menjadi puas karenanya. Semakin banyak harta yang dimiliki, maka semakin akan merasa kurang. Bagaikan minum air laut, semakin diminum semakin merasa haus. Padahal harta akan dipertanggung jawabkan nanti kelak diakhirat, darimana asalnya dan kemana menghabiskannya. Banyak orang yang bangga korupsi karena tidak berfikir bahwa harta adalah tanggung jawab yang berat nantinya.

Semuanya Tergantung Dari Sudut Pandang

Dari sudut pandang ilmu alam, kenapa rumput tetangga lebih hijau warnanya. Mungkin saja rumput itu dari jenis rumput yang lain. Namun tidak semuanya yang berwana hijau terutama rumput itu indah. Warna hijau memang dominan, namun bukan berarti rumput kita yang lebih pucat menandakan kualitas yang buruk. Pada intinya, mari memandang sesuatu dari banyak sudut pandang sehingga mendapatkan kesimpulan lebih baik. Tidak memandang secara parsial atau sebagian-sebagian saja. Memang benar, rumput kita tidak selalu harus sama hijau dengan tetangga. Tapi yakinlah bahwa rumput kita lebih indah dari rumput tetangga.

Semoga bermanfaat dan happy blogging…..



Label:

Selasa, 11 Februari 2014

Benarkah Tidak Memilih Itu Sebuah Pilihan?

golput
image from google
Benarkah Tidak Memilih Itu Sebuah Pilihan? | Setiap tiba musim pemilu, baik itu pemilihan legislative, presiden ataupun pemilukada pasti tidak terlepas dari adanya golongan yang mengatasnamakan Golongan Putih alias Golput. Fenomena golput ini adalah seringkai diidentifikasikan dengan "gerakan protes" rakyat terhadap penyelenggaraan pemilihan umum dan pilkada, namun yang penting untuk diketahui dari gerakan itu adalah makna dan sasaran yang ingin dicapainya serta implikasinya terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahwa hingga kini masih tetap ada golput yang merupakan masalah pada sistem pemilu kita, ada apa dengan dinamika demokrasi kita?" Tidak mencoblos salah satu pun dari tanda gambar organisasi peserta pemilu, salah satu pasangan calon kepala daerah atau calon legislatif tentu saja bukannya tanpa kesadaran dan pertimbangan yang argumentatif.

Ada pendirian bahwa tidak memilih itu adalah sebuah pilihan. Ini sah-sah saja karena ini merupakan hak setiap individu untuk menentukan pilihannya masing-masing. Namun tentunya sebagai orang yang mempunyai nalar dan fikiran tentunya apa yang kita perbuat harus berdasar hati nurani yang sehat bukan karena nafsu atau mengikuti tanpa argumentasi yang kuat. Berpikir jernih sebelum bertindak adalah sebuah keputusan yang bijaksana dan bersikap. Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah ketika kita tidak menentukan pilihan pada pesta demokrasi ini sebuah keputusan yang bijak dan bisa menyelesaikan permasalahan Negara ini?

Banyak sebab kenapa seseorang tidak menentukan pilihan pada pemilu ini. salah satu hal yang paling mendasar dari golput (golongan putih) ini adalah sikap apatis masyarakat terhadap politisi, yang notabene selama ini tidak bisa memenuhi harapan rakyat. Bahkan mereka cenderung memperkaya diri sendiri dari jabatan yang mereka pikul. Sehingga masyarakat umumnya beranggapan bahwa partisipasi politik mereka sia-sia karena tidak pernah efektif dalam memilih wakilnya di parlemen. Pola pikir masyarakat melihat elite politik yang senantiasa selalu membodohi masyarakat. Apalagi saat ini kita sering menyaksikan pemberitaan di media yang didominasi oleh skandal para wakil rakyat yang menyebabkan semakin timbulnya sikap apatis ini.

Menurut salah seorang pencetus golput pada tahun 1971, Arif Budiman, bahwa orang-orang golput itu ada yang murni dan ada yang kecelakaan. Kalau yang murni tidak mau memilih berdasarkan kesadaran, sedangkan yang kecelakaan karena memang benar-benar tidak mengerti atau lagi ada halangan. Sekali lagi, banyak masyarakat yang berpikir dia memilih atau tidak, tidak ada perbedaan yang akan ia rasakan. Banyak pula yang enggan memberikan hak suaranya karena alasan tidak ada calon yang cocok sesuai kata hati mereka atau karena mereka apatis dengan pemilihan kepala daerah. Dan ada juga masyarakat yang sebenarnya memiliki kartu tanda penduduk namun tidak memiliki hak pilih karena tidak tercatat sebagai DPT.

Membahas masalah golput ini, maka kita tidak lepas untuk menyibak faktor-faktor yang melatarbelakangi seseorang memberikan suaranya dalam pemilu. apakah memilih merupakan hak atau kewajiban, atau hanya sebuah ritual budaya semata yang tanpa makna? Pemaknaan ini kembali kepada diri kita masing masing. Lalu benarkah tidak memilih itu sebuah pilihan?

Sebagai penutup pembahasan ini, saya mengutip ungkapan dari seorang filusuf Yunani, Plato, bahwa jika kita tidak menentukan pilihan sama saja kita menyerahkan kekuasaan negeri ini kepada orang yang lebih rendah kecerdasannya daripada kita.

Semoga bermanfaat dan happy blogging……





Label: ,