Jumat, 18 Maret 2016

Hiduplah Seperti Elang dan Jangan Hidup Seperti Ayam, Sebuah Renungan

hiduplah seperti elang dan jangan hidup seperti ayam
Hiduplah Seperti Elang  | Dalam sebuah presentasi motivasi sang trainer pernah menceritakan bahwa sifat manusia itu bisa diibaratkan seperti sifat ayam dan elang. Loh kok bisa ayam dan elang itu disifati seperti sifat manusia, bagaimana dan dalam hal apa? Okelah dalam tulisan ini saya ingin menyampaikan bahwa dalam berbisnis atau berwirausaha ataupun apapunn itu usaha manusia bisa digambarkan dengan sifat ayam dan elang ini. Tentunya kedua jenis hewan ini mempunyai sifat yang berbeda satu sama lainnya.

Sahabat Kang Muroi yang budiman, dalam kehidupan ini kita bisa banyak belajar dari berbagai hal terutama kita bisa belajar dari Alam atau bahasa kulonnya Learn from the cradle to the grave. Sejak kita dilahirkan dari buiaan hingga ke liang lahat kita akan terus dengan yang namanya proses belajar dan belajar atau Long Live Education atau dalam kalimat lain, hidup adalah proses pembelajaran diri tanpa akhir. Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan bodoh dan tidak atahu apa-apa, maka belajar adalah sarana untuk mengenal lingkungan dan bekal kita kelak di akhirat.

Kita bisa belajar dari apa saja yang kita temui, belajar tidak hanya lewat bangku sekolahan yang formal namun belajar juga bisa kita temui dari alam sekitar kita yang terkembang terbentang luas mulai dari timur samapai ke barat, dari utara sampai ke selatan. Dalam alam sekitar kita ada beragam makluk hidup yang dapat dijadikan contoh dalam kehidupan sehari-hari kita, dapat diambil ibroh untuk kita jadikan pedoman hidup bahwa Allah subhanahu wa ta'ala tidak akan tidur dengan nasib hambanya. Misalnya kita dapat belajar hidup berbagi dari seekor semut, karena tidak ada semut yang mendapatkan sebutir beras dan memakannya secara sembunyi. Selalu dibawa ke sarangnya dan dimakan bersama-sama. Atau kita dapat belajar dari burung-burung yang berangkat pagi dan pulang petang dengan membawa makanan dan tanpa keluh dan kesah begitu burung-burung itu melakukan pekerjaannya. Ini menyadarkan kita sebagai manusia bahwa ternyata seekor burung saja diberi rizki yang melimpah jika mau mencarinya, jika mau berusaha mendapatkannya.

Sifat-Sifat Elang yang Bisa Kita Contoh

Hiduplah bagaikan elang, karena elang melambangkan sifat pemberani. Karena Elang memiliki sifat-sifat ksatria elang membangun sarangnya ditempat yang tinggi. Elang selalu memberi tanda setiap kali ia akan menyerang musuhnya. Elang juga binatang yang tidak makan bangkai, tidak seperti seperti serigala. Kelebihan elang yang lainnya adalah elang bisa terbang tinggi, ketika ia terpojok dan mengalami kesulitan ia akan menemukan jalan keluar dengan terbang setinggi tingginya. Elang juga memiliki pandangan yang tajam dan cerdas. Sifat menarik dari elang yang lain adalah ternyata elang akan mempertaruhkan nyawanya demi anak-anaknya , tipikal hewan yang cinta dengan keluarganya.

Sifat-Sifat Ayam yang Seharusnya Tidak Kita Contoh

Sifat-sifat ayam sangat negatif diantaranya adalah ayam ternyata memiliki sifat penakut, ayam juga tidak berani terbang tinggi, ketika dikejar-kejar manusia ia hanya akan terpojok tanpa bis aberbuat-apa-apa. Nasib ayam juga ditentukan oleh manusia, kapan mau dipotong untuk dijadikan makanan manusia. Ini sifat buruk ayam berikutnya yaitu suka gonta-ganti pasangan. Ayam jug amempunyai sifat penakut, buktinya jika ada suara ribut ayam pasti akan berlari mencari tempat perlindungan perlindungan, ia tidak mau berfikir masalah apa yang terjadi ia tahunya lari dan lari. Sifat buruk ayam berikutnya adalah ia tidak berani mengambil resiko pergi jauh dari kandangnya.

Tentu tulisan ini bukan maksud untuk  menyamakan manusia dengan seekor elang ataupun ayam. Tetapi setidaknya kita bisa mengambil ibroh atau pelajaran dari kedua makluk ini. Kita bisa memperhatikan gaya hidup mereka, karakter dan daya hidup yang ada pada diri mereka masing-masing. Apakah kita ingin menjadi seperti seekor elang ataukah kita ingin hidup seperti seekor ayam? Yang tiap hari harus mengais untuk mencari makan dan kemudian ketika tiba giliran untuk di potong, maka seekor ayam hanya bisa menyerahkan “takdirnya” ditangan manusia. Ataukah kita memilih menjadi seekor elang? Kalau ini yang kita pilih, berarti kita sudah siap lahir batin untuk hidup melawan badai yang menerpa. Berani merantau jauh demi kehidupan yang lebih baik dan berani mengambil resiko. Karena kita menyadari menjadi yang terbaik dalam hidup harus melalui beberapa tahapan yang sangat melelahkan, seperti halnya seekor elang ketika harus terbang melawan badai.

Hidup Adalah Sebuah Harapan dan Penuh Resiko

Awal dari keinginan adalah sebuah mimpi. Beranilah bermimpi karena mimpi akan membuat kita menjadi besar. Bermimpi tentu tidak dimaksudkan menghabiskan waktu secara sia-sia dengan melamun, melainkan berani memiliki impiian untuk meraih kesuksesan. Berani memiliki cita-cita yang tinggi, kendati kita memahami bahwa sebuah cita-cita tidak secara serta merta terwujud, melainkan harus dibangun dengan kerja keras dan pantang menyerah, seperti halnya Elang membangun sarangnya dipohon cemara yang tinggi. Kendati ada resiko terimbas badai. Hidup melawan badai berarti berani menghadapi resiko berani minta maaf bila bersalah. Berani bertanggung jawab untuk akibat dari pekerjaan. Berani membuka hati dan pikiran untuk menerima saran dan kritik. Berani memperbaiki bila apa yang kita lakukan adalah salah. Berani tampil kedepan untuk membela kebenaran. Hidup kita tidak akan terlepas dari dua hal yaitu Harapan dan Resiko, karena disetiap keberhasilan hidup pasti ada resiko yang harus kita hadapai.

Untuk menutup tulisan ini saya nukilkan nasehat dari Tri Murti Pondok Pesantren Modern Gontor yaitu alm. KH. Imam Zarkasyi :
Berani Hidup Tak Takut Mati, Takut Mati Jangan Hidup, Takut Hidup Mati Saja.

Label:

Selasa, 15 Maret 2016

Blogger Yang Bukan Blogger, Jawaban Buat Yang Mau Serius Ngeblog

blogger
Blogger yang bukan blogger | Sepertinya judul yang sedikit aneh yah. Terus maksude apa sih blogger yang bukan blogger itu? Yah tentu dari masing-masing sodara yang selama ini sudah mengelola blog, baik yang baru sebulan, setahun, dua tahun dan seterusnya tentunya akan merasakan suka duka ngeblog bukan? Dan ternyata selama kita menggeluti dunia blogging ini tidak sedikit yang akhirnya mundur secara teratur meninggalkan dunia maya dengan berbagai macam alasan.

Dan tentunya bagi yang masih eksis sampai detik ini banyak juga yang bertanya apakah saya atawa kita memang betul betul seorang blogger yang betul-betul blogger dalam artian betul-betul tahu seluk beluk dunia maya ini. Banyak dari kita yang ketika awal mencoba membuat blog hanya iseng belaka dan mengisi kekosongan waktu. Padahal ada beberapa point yang sebaiknya kita perhatikan sebelum menjadi seorang blogger yang produktif dari beberapa segi.

Harus Cinta dengan Dunia Blogging

Point yang pertama ini sebenarnya berlaku untuk semua jenis pekerjaan, apapun pekerjaan kita, entah seorang guru, petani, karyawan swasta atau yang lainnya. Cinta dengan dunia kerja atau sesuatu yang sedang digelutinya adalah modal utama kita meraih sukses dan agar nantinya tidak timbul kejenuhan yang mendera selama kita ngeblog. Mencintai berarti siap berkorban, baik itu tenaga, waktu dan yang lainnya.

Punya Waktu Untuk Ngeblog

Waktu adalah hal penting dalam ngeblog, tanpa waktu yang luang tidak mungkin kita bisa ngeblog dengan leluasa. Walaupun tidak sedikit dari para blogger yang ngeblog paruh waktu, tapi pada akhirnya hasilnya kurang maksimal. Apalagi dikala pekerjaan offline yang sedang menumpuk, otomatis kegiatan dunia maya khususnya ngeblog pasti akan terabaikan. Sehingga waktu dalam ngeblog ini adalah hal yang krusial terutama buat para blogger yang sudah menghasilkan recehan dari kegiatan ini.

Banyak Ide dan Kreatif

Yah seorang blogger harus banyak ide atau luas pengetahuannya terutama buat blogger yang punya niche tertentu tentunya ia harus betul betul menguasai apa yang akan dituangkan dalam tulisan di blognya. Ide ini bisa datang dari mana saja, bisa dari pengetahuan kita selama belajar, dari media yang dibaca atau ide-ide yang lainnya untuk memperkaya khazanah keilmuannya. Blogger yang minim pengetahuan biasanya ia akan mengalami stagnansi ditengah perjalanan ngeblognya karena kekurangan ide.

Dan ternyata banyak ide saja tidak cukup tapi juga harus kreatif mengelola blognya. Kreatif dalam tulisannya atau kreatif yang lainnya, semisal bagaimana bisa menghasilkan sesuatu dari blognya aga rapa yang selama diusahakan dengan mengorbankan waktunya tidak akan sia-sia belaka atau hanya membuang-buang waktu saja.

Mau Terus Belajar dan Belajar

Dunia blogging tidak ada dalam bangku sekolahan, ia bisa autodikak dipelajari dan siapapun bisa mempelajarinya. Menjadi seorang blogger yang sukses seharusnya jangan merasa puas dengan apa yang sudah dicapainya selama ini namun sebaiknya ia harus lebih banyak belajar lagi. Belajar agar blogger yang sebenarnya bukan blogger bloggeran.


Mungkin hanya empat hal diatas yang bisa dikatakan kita menjadi seorang blogger yang sebenarnya walaupun sebenarnya banyak hal yang mendukung seseorang benar-benar menjadi blogger beneran, bisa ditambahkan oleh para pembaca budiman, kira-kira apa saja hal yang lainnya. Jika selama ini kita belum mencintai dunia blogging alias hanya iseng-iseng belaka bisa dipastikan kita bukan seorang blogger yang bukan blogger. Namun pada akhirnya itu semua diserahkan kepada masing-masing pembaca yang budiman. Tergantung niat untuk apa ngeblognya, toh selama ini jika niatnya ingin banyak kenalan dan akhirnya tercapai itu bukan merupakan kerugian karena banyak kenalan dan teman.

Dunia blogging sekali lagi adalah bisa juga dijadikan sandaran hidup alias bisa membuat dapur ngebul jika dijalankan dengan serius dan betul-betul berniat mengelolanya, menyediakan waktu yang full dan tidak setengah-setengah dalam mengelolanya bisa menjadikan kegiatan ini menyenagkan dan mengasilkan, tentunya kita harus banyak belajar bagaimana cara mengelola blog agar lebih profesional dan menghasilkan. Wallahu 'alam dan semoga bermanfaat...


Label: ,

Minggu, 13 Maret 2016

Inilah Panduan Memilih Pemimpin Dalam Islam

saya muslim, haram memilih pemimpin kafir
Inilah Panduan Memilih Pemimpin Dalam Islam | Ada tiga hal yang kadang memebuat orang gelap mata, yaitu : Harta, tahta dan Wanita. Tiga hal ini tidak dipungkiri lagi kadang-kadang membuat siapa saja bisa menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkannya karena secara manusiawi ini adalah merupakan hal yang lumrah atau fitrah sebagai manusia ingin memilikinya. Sudah banyak sejarah dan kejadian didunia ini yang karena tiga hal diatas bisa terjadi peperangan, pertikaian dan huru hara yang tidak sedikit memakan korban, baik harta ataupun nyawa.

Pada kesempatan kali ini, blog yang sangat sederhana ini mencoba sedikit mengulas point yang kedua yaitu mengenai tahta atau kekuasaan. Jika kita bicara mengenai kekuasaan tentunya tidak akan lepas dari yang namanya pemimpin. Sehingga artikel ini akan saya persempit kembali bagaimana cara memilih pemimpin yang baik menurut Islam.

Saya angkat tema ini karena dewasa ini sedang ramainya menjelang pemilihan kepala daerah beberapa tahun yang akan datang. Dimana ada kubu-kubu yang menghalalkan segala cara dengan cara-cara yang keji dan kotor yang mencampur adukan kebenaran dan kebatilan. Sungguh kejam dan keji perilaku calon pemimpin seperti ini. Yang tidak bisa kita bayangkan jika suatu saat akan menguasai negeri ini yang mayoritas kita adalah muslim. Akankah kita menjadi kaum yang tertindas dinegeri mayoritas?

saya muslim, haram pilih pemimpin kafirSemoga tulisan ini bisa menginspirasi buat siapa saja untuk selalu sadar bahwa memilih pempimpin adalah tanggung jawab kita tidak hanya didunia, tapi juga diakhirat kitaseperti kata saudara kita Salim A. Fillah bahwa "Agama adalah cara memandang hidup, cara memandang mati, cara memandang hidup sesudah mati, cara memandang Pencipta hidup dan mati, serta cara memandang yang hidup maupun yang mati. Memilih pemimpin yang shalih adalah hajat kita dunia dan akhirat"


Cara Memilih Pemimpin dalam Islam

Karena saking pentingnya masalah kepemimpinan, sampai Rasulullah SAW memerintahkan kepada kaum Muslimin untuk mengangkat seorang pemimpin meskipun hanya bertiga (HR Abu Dawud). Tindakan golput atau tidak turut memilih berarti memberikan kesempatan untuk menang kepada calon pemimpin yang kurang baik.

Agar tidak salah dalam memilih, ada cara cerdas yang perlu diperhatikan dan ikuti.

Pertama, pilihlah pemimpin yang terbaik. Pilihlah pemimpin yang amanah, bertanggung jawab, dan berkomitmen terhadap ajaran agamanya. Sebab, jika terhadap agamanya saja tidak punya komitmen menjalankan ajarannya, apalagi komitmen terhadap rakyat yang memilihnya.

Salah satu indikasi pemimpin yang berkomitmen terhadap agamanya adalah yang aktif ke masjid. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kamu melihat seseorang aktif ke masjid, maka saksikanlah bahwa ia adalah orang yang beriman (saleh). Karena Allah SWT berfirman bahwa yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Mardawaih, dan al-Hakim).

Dan termasuk kategori berkhianat kepada Allah, rasul-Nya, dan kaum Muslimin adalah jika tidak memilih pemimpin yang terbaik (saleh). Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang memilih seorang pemimpin padahal ia tahu ada orang yang lebih pantas (saleh), maka ia telah mengkhianati Allah, rasul-Nya, dan kaum Muslimin.” (HR Hakim). Naudzu billah.

Kedua, shalat Istikharah dan bermusyawarah. Jika mengalami kesulitan dalam memilih pemimpin, sebaiknya lakukan shalat Istikharah dan bermusyawarahlah dengan orang-orang yang mengetahui persoalan memilih pemimpin agar tidak salah.

Dalam hal ini Rasulullah SAW menegaskan tidak akan pernah kecewa orang-orang yang beristikharah dan tidak akan pernah menyesal pula orang-orang yang suka bermusyawarah (HR Ahmad).

Ketiga, hendaknya bertanya kepada ahlinya atau orang yang mengenal sepak terjang dan latar belakang calon pemimpin yang akan dipilih. Allah SWT menegaskan, “Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika engkau tidak mengetahui.” (QS an-Nahl [16]: 43). Semoga Allah selalu membimbing masyarakat agar dapat memilih pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab.

Syarat-Syarat Menjadi Pempimpin dalam Islam

Para pakar telah lama menelusuri al-Qur’an dan Hadits dan menyimpulkan minimal ada empat kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai syarat untuk menjadi pemimpin. Semuanya terkumpul di dalam empat sifat yang dimiliki oleh para nabi/ rasul sebagai pemimpin umatnya, yaitu:

(1) Shidiq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak di dalam melaksanakan tugasnya. Lawannya adalah bohong.
(2) Amanah, yaitu kepercayaan yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan kepadanya, baik dari orang-orang yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah SWT. Lawannya adalah khianat.
(3) Fathonah, yaitu kecerdasan, cakap, dan handal yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul. Lawannya adalah bodoh.
(4) Tabligh, yaitu penyampaian secara jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan transparansi). Lawannya adalah menutup-nutupi (kekurangan) dan melindungi (kesalahan).

Lebih Baik memiliki pemimpin muslim namun kerap korupsi ataukah pemimpin non muslim yang jujur, adil dan anti korupsi?

Berikut ini adalah jawaban dari ustadz Muhammad Abduh Tausikal mengenai lebih baik mana memilih pempimpin muslim tapi doyan korupsi atau non muslim alias kafir tapi jujur dan anti korupsi.

Kita dapat ambil pelajaran dari perkataan ‘Abdullah bin Mas’ud berikut ini.
Ibnu Mas’ud berkata,
لأَنْ أَحْلِفَ بِاللَّهِ كَاذِبًا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أنْ أَحْلِفَ بِغَيْرِهِ وَأنَا صَادِقٌ
“Aku bersumpah dengan nama Allah dalam keadaan berdusta lebih aku sukai daripada aku jujur lalu bersumpah dengan nama selain Allah.” (HR. Ath Thobroni dalam Al Kabir. Guru kami, Syaikh

Sholeh Al ‘Ushoimi berkata bahwa sanad hadits ini shahih).
Kata Syaikh Sholeh Al Fauzan, di antara faedah dari hadits di atas adalah bolehnya mengambil mudarat yang lebih ringan ketika berhadapan dengan dua kemudaratan. (Al Mulakhos fii Syarh Kitabit Tauhid, hal. 328).

Kaedah dari pernyataan di atas disebutkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah,
اِرْتِكَابُ أَخَفِّ المفْسَدَتَيْنِ بِتَرْكِ أَثْقَلِهِمَا
“Mengambil mafsadat yang lebih ringan dari dua mafsadat yang ada dan meninggalkan yang lebih berat.” (Fathul Bari, 9: 462)

Kalau kita bandingkan saat mesti memilih antara pemimpin muslim yang gemar maksiat dengan pemimpin non muslim yang jujur dan adil, maka tetap saja pemimpin muslim lebih utama untuk dijadikan pilihan. Mudaratnya tentu lebih ringan. Apa alasannya?

Alasan pertama, kita tidak boleh mengambil pemimpin dari orang kafir. Alasan kedua, kita akan lebih mudah dalam menjalani agama karena pemimpin semacam itu lebih mengerti akan kebutuhan kaum muslimin. Alasan ketiga, non muslim tidak mudah menindas kaum muslimin atau menyebar ajaran mereka.

Kezaliman yang dilakukan oleh pemimpin muslim misalnya dengan korupsi, itu adalah kesalahannya. Ia akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah atas tindak jeleknya. Namun agama kita pasti akan lebih selamat dan orang muslim pun akan peduli pada sesama saudaranya. Beda halnya dengan non muslim. Muslim yang bermaksiat masih lebih mending, berbeda dengan non muslim yang diancam akan kekal di neraka.

Jadi bagi yang masih mengatakan pemimpin non muslim itu lebih baik, berpikirlah dengan nalar yang baik dan banyak mengkaji ayat-ayat Al Qur’an.
SAYA MUSLIM, DAN HARAM BAGI SAYA MEMILIH PEMIMPIN KAFIR

Label: ,