Jumat, 26 Maret 2021

FRAKSI PKB GROBOGAN INISIASI PERDA PESANTREN

Anggota DPRD Fraksi PKB Kabupaten Grobogan mengikuti kegiatan Workshop Persiapan Raperda Pesantren di Solo

Grobogan/PepaliNews - Tujuh anggota DPRD Fraksi PKB Kabupaten Grobogan mengikuti kegiatan Workshop Persiapan Raperda Pesantren yang dilaksanakan oleh DPW PKB Jawa Tengah di Hotel Novotel, Solo, pada tanggal 24 sampai 26 Maret 2021. Kegiatan ini dihadiri langsung Ketua Umum PKB sekaligus Wakil Ketua DPR RI Bidang Kesejahteraan Rakyat (Korkesra) Abdul Muhaimin Iskandar (Gus Ami), Ketua DPW PKB Jawa Tengah KH. Yusuf Chudhori dan Segenap jajaran pengurus DPP dan DPW PKB Jawa Tengah.


Pada saat sambutan pembukaan Gus AMI menyampaikan, Pesantren bukan hanya berguna sebagai benteng agama, tetapi juga sebagai benteng kekuatan sosial, ekonomi, dan budaya.


“Oleh karena itu, untuk mengawal implementasi Undang-undang (UU) Pesantren berupa peraturan daerah (Perda) adalah tugas yang harus dijalankan dengan baik,"


Tugas tersebut, sambung Gus Ami, juga menjadi peran Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk menjadikan pesantren di seluruh Nusantara sebagai ujung tombak kemajuan bangsa, baik di bidang agama, ekonomi, sosial bahkan budaya.


Salah satu narasumber yang juga memberikan materi tentang pentingnya Perda Pesantren adalah KH. Fadlullah Turmudzi pengasuh Ponpes APIK Kaliwungu Kendal yang mewakili pengurus RMI PWNU Jawa Tengah. Dalam paparannya UU Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren menjadi sejarah baru bentuk rekognisi (pengakuan) Negara terhadap pesantren yang eksistensinya sudah ada berabad-abad silam, jauh sebelum Tanah Air ini merdeka. Tidak hanya rekognisi, UU tentang Pesantren juga bagian dari afirmasi dan fasilitasi kepada dunia pondok pesantren ".


Sementara itu Ketua DPC PKB Kabupaten Grobogan Kiai Musta'in berharap agar Perda Pesantren dapat segera terbentuk di seluruh wilayah Jawa Tengah terutama di Kabupaten Grobogan karena hanya dengan terbitnya  Perda Pesantren maka Pondok Pesantren kedepan akan mendapatkan hak yang sama dengan pendidikan umum baik dari sisi pengakuan maupun penganggaran. Untuk itu pihaknya berharap agar para pengurus RMI PCNU, FKPP, Kyai dan para pengasuh Pondok Pesantren di Kabupaten Grobogan dapat memberikan masukan pada saat pembahasan Perda. Sehingga hasil produk dari perda Pesantren ini betul betul memberikan manfaat terhadap Seluruh Pondok Pesantren di kabupaten Grobogan.


"Undang-undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren akan segera kita tindaklanjuti dengan membuat Raperda Pesantren di Kabupaten Grobogan, sehingga pemerintah daerah punya payung hukum yang lebih spesifik terkait pesantren," ujar Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Grobogan Kiai Musta'in S.Ag.


Selain menghadiri Workshop di Solo, Gus AMI juga menghadiri silaturahmi dengan 200 alim ulama se-Jawa Tengah di Pondok Pesantren Edi Mancoro, Salatiga.


Dalam silaturahmi tersebut, Ketua Umum PKB tersebut menyampaikan, pesantren memiliki peran dan kontribusi yang besar bagi pembangunan bangsa. Kontribusi ini bahkan telah diwujudkan sejak Indonesia belum merdeka.


“Pesantren adalah subjek masyarakat yang sangat efektif menjadi kekuatan perbaikan. Di samping itu, pesantren juga memiliki jasa dan kiprah dalam perbaikan masyarakat bangsa,” ujar Gus AMI.


Maka dari itu, lanjut dia, pengesahan UU Pesantren pada 2019 dapat menjadi salah satu payung bagi kemajuan pesantren yang sudah berkiprah sangat besar di Indonesia.



Tak lupa, Gus AMI mengucapkan terima kasih kepada Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKB Jateng dalam menyiapkan langkah-langkah penyusunan Perda Pesantren.


Pada kesempatan yang sama, Ketua DPW PKB Jateng Yusuf Chudlory mengaku senang dengan terlaksananya silaturahmi alim ulama se-Jateng. 


Lebih lanjut, Gus Yusuf mengatakan, berdasarkan laporannya, kegiatan workshop perda pesantren dihadiri pula Fraksi PKB se-Jateng di Solo.


Menurutnya, acara tersebut merupakan wujud komitmen PKB kepada Kiai dan juga pesantren agar semakin baik.


“Tadi malam, kami seluruh Fraksi PKB se-Jateng berkumpul sekaligus meluncurkan Perda Pesantren. Kami launching gerakan untuk realisasi Perda Pesantren di Jateng,” imbuh Gus Yusuf.


Tanpa Perda Pesantren, sambung dia, UU Pesantren ibarat macan ompong. Oleh karenanya, ia mengajak semua pihak untuk bersinergi agar pesantren bisa mendapat perhatian yang layak dari negara.


“Untuk itu PKB mengundang para Kiai untuk memberikan masukan dan juga saran membangun agar Perda Pesantren bisa segera diwujudkan. Perda Pesantren bukan hanya memberikan manfaat pesantren, tetapi juga bagi masyarakat sekitar,” ucapnya.


Turut hadir dalam kesempatan tersebut, di antaranya Syuriah Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) Subhan Makmun, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng Muzammil, Pengasuh Ponpes Edi Mancoro Muhammad Hanif, serta Ketua Dewan Syuro Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB se-Jateng.


Label: , ,

Kamis, 25 Maret 2021

Cara Sayyidina Umar bin Abdul Aziz Memuliakan Tamunya

Ilustrasi

Dalam kitab Hilyah al-Auliyâ’ wa Thabaqât al-Ashfiyâ’, Imam Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah al-Asfahani mencatat sebuah riwayat tentang Sayyidina Umar bin Abdul Aziz dan penasihatnya. Berikut riwayatnya:


حدثنا أبو حامد بن جبلة، ثنا محمد بن إسحاق، ثنا أحمد بن الوليد، ثنا محمد بن كثير، ثنا أبي كثير بن مروان، عن رجاء بن حيوة، قال: سمرت ليلة عند عمر بن عبد العزيز فاعتل السراج، فذهبت أقوم أصلحه، فأمرني عمر بالجلوس، ثم قام فأصلحه، ثم عاد فجلس فقال: قمت وأنا عمر بن عبد العزيز، وجلست وأنا عمر بن عبد العزيز، ولؤم بالرجل إن استخدم ضيفه.


Abu Hamid bin Jabbalah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ishaq bercerita, Ahmad bin al-Walid bercerita, Muhammad bin Katsir bercerita, Abu Katsir bin Marwan bercerita, dari Raja’ bin Haiwah, ia berkata:


“Aku berbincang dengan Umar bin Abdul Aziz di malam hari, dan lampu (di ruangan hampir) terjatuh. Aku bergegas hendak berdiri untuk memperbaikinya, (dan) Umar menyuruhku untuk tetap duduk. Ia berdiri dan memperbaiki lampu tersebut, kemudian kembali duduk, sembari berkata:


“Aku berdiri, aku tetap Umar bin Abdul Aziz. Aku duduk, aku tetap Umar bin Abdul Aziz. (Tidak ada bedanya). Dan, (sungguh) tercela orang yang (membiarkan) tamunya melayani(nya)” (Imam Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah al-Asfahani, Hilyah al-Auliyâ’ wa Thabaqât al-Ashfiyâ’, Beirut: Dar al-Fikr, 2019, juz 5, h. 264).


****


Memuliakan tamu merupakan bagian dari ajaran Islam, bahkan dalam hadits yang melandasi pentingnya memuliakan tamu diawali dengan kalimat, “barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” Hal ini menunjukkan bahwa memuliakan tamu (ikrâm al-dlaif) memiliki hubungan langsung dengan iman.


Dalam kisah di atas, Sayyidina Umar bin Abdul Aziz menerapkan konsep “ikrâm” (memuliakan) dengan cara luar biasa. Padahal, ia adalah pemimpin umat Islam saat itu, dan Raja’ bin Haiwah adalah sekertarisnya (kâtib) dan penasihatnya. Meski demikian, ia menekankan bahwa, siapa pun ia, baik berdiri maupun duduk, ia tetap Umar bin Abdul Aziz, yang dalam hal ini berperan sebagai tuan rumah, sehingga etika yang ditampilkan adalah etika tuan rumah kepada tamunya, bukan pemimpin kepada bawahannya.


Raja’ bin Hawiyah (w. 69/70 H) sendiri sudah menjadi pejabat di Daulah Umayyah sejak Khalifah Abdul Malik bin Marwan sampai Umar bin Abdul Aziz. Artinya, ia telah mengabdi pada empat khalifah dari Daulah Umayyah. Ia adalah seorang faqîh (ahli fiqih), zâhid (orang yang zuhud), tab’in, dan banyak meriwayatkan hadits. Ia mengambil hadits dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, Mu’adz bin Jabal, Mahmud bin al-Rabi’, Abu Darda’, Abu Umamah al-Bahili, Abu Sa’id al-Khudri, Ummu Darda’, Umar bin Abdul Aziz, dan lain sebagainya. Banyak ulama yang mengambil riwayat hadits darinya, seperti al-Zuhri, Qutadah bin Du’amah, Abdullah bin ‘Aun, Abdul Malik bin ‘Umair, Humaid al-Thawil, Abdul Karim bin al-Harits, dan lain sebagainya (Imam Ibnu ‘Asakir, Tarîkh Madînah Dimasyq, Beirut: Dar al-Fikr, 1995, juz 18, h. 96-98).


Jika merujuk pada catatan Imam Ibnu ‘Asakir di atas, Raja’ bin Hawiyah termasuk murid Sayyidina Umar bin Abdul Aziz, karena ia mengambil riwayat hadits darinya. Artinya, apa yang dilakukan Sayyidina Umar bin Abdul Aziz benar-benar sebuah adab tanpa penghalang. Baginya, konsep memuliakan tamu harus diterapkan kepada siapapun juga, sebagaimana yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak peduli tamunya orang biasa, pejabat tinggi, bawahan, murid, atau saudaranya sendiri, ia memperlakukan mereka dengan penghormatan yang semestinya.



Di sisi lain, Sayyidina Umar bin Abdul Aziz sedang mengajarkan keteladanan pada Raja’ bin Hawiyah, sebagai pemimpin sekaligus guru. Menariknya, ia mengamalkannya terlebih dahulu sebelum menjelaskannya, bukan sebaliknya. Setelah ia selesai memperbaiki lampu, ia berujar dengan tegas (terjemah bebas): “Berdiri ataupun duduk, aku tetap Umar bin Abdul Aziz.” 


Maksudnya adalah, sebelum predikat apa pun yang menempel kepadanya, atasan dan guru, ia ingin menegaskan bahwa ia adalah seorang manusia yang tetap terikat dengan aturan dan ajaran agama. Ia tidak mendapatkan keistimewaan hanya karena ia atasan atau guru dari Raja’ bin Hawiyah.


Kemudian ia menjelaskan tindakannya dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti. Katanya: “Dan, (sungguh) tercela orang yang (membiarkan) tamunya melayani(nya).” Dengan mengatakan ini, Sayyidina Umar bin Abdul Aziz memberikan pemahaman yang indah, bahwa tidaklah pantas bagi tuan rumah membiarkan tamunya melayaninya.


Dalam hal “istihdzâm dlaif”, ada dua sudut pandang yang perlu dipahami, yaitu sudut pandang pasif dan sudut pandang aktif. Penjelasannya begini. Maksud dari sudut pandang pasif adalah pembiaran, di mana tuan rumah membiarkan tamu melayaninya tanpa upaya mencegah atau melarangnya. Dalam contoh di atas, Sayyidina Umar bin Abdul Aziz bergegas melarang Raja’ bin Hawiyah untuk melakukan hal tersebut.


Sedangkan sudut pandang aktif adalah meminta secara langsung pada tamunya untuk melayaninya. Bahasa kasarnya menjadikan tamunya pelayan. Dalam contoh di atas, meskipun dari starta jabatan dan hubungan guru-murid memungkinkan, Sayyidina Umar bin Abdul Aziz tidak melakukannya. Artinya, meskipun ia mempunyai kesempatan dan peluang untuk itu, ia tidak menggunakannya. Jangankan menggunakannya, melakukan pembiaran saja ia enggan. Karena, katanya: “Aku berdiri, aku tetap Umar bin Abdul Aziz. Aku duduk, aku tetap Umar bin Abdul Aziz. (Tidak ada bedanya). Dan, (sungguh) tercela orang yang (membiarkan) tamunya melayani(nya).”


Wallahu a’lam bish-shawwab....


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen


Sumber : nu.or.id

Label:

Belajar Memuliakan Ilmu dari para Ulama

Pada dasarnya cahaya kepahaman serta berkah ilmu bersumber dari Allah. (Dok. PP Sirojuth Tolibin Brabo)

Sejak zaman dahulu guru-guru kita, khususnya para kiai di pesantren, mengajarkan agar menjaga adab dalam mengajar. Sejak di pesantren para santri diajarkan untuk menempatkan kitab-kitab tafsir Al-Qur’an di urutan teratas dari tumpukan kitab. Disusul kitab-kitab hadits, kemudian kitab-kitab fan ilmu lainnya di bawahnya lagi. Mereka juga diajarkan membawa kitab kuning dengan cara yang baik. Hal ini semata-mata untuk menjaga adab kita kepada tulisan ayat Al-Qur’an, hadits Nabi, serta ilmu yang ada di dalam lembaran-lembarannya.


Selain itu, guru-guru di pesantren juga mengajarkan untuk selalu dalam keadaan suci ketika belajar maupun mengajar. Terkadang hal inilah yang kurang kita perhatikan dengan seksama. Padahal, belajar ataupun mengajar dalam keadaan suci dapat membantu kita dalam memahami kitab kuning yang kita kaji. Karena, pada dasarnya cahaya kepahaman serta berkah ilmu bersumber dari Allah. Terkadang justru sebab adab yang baik dalam mencari ilmulah yang dapat mengantarkan seorang santri meraih keberkahan ilmu dari Allah.


Dr. Muhammad Ibrahim Al-‘Asymawi, seorang pakar ilmu hadits di Universitas al-Azhar, pernah menceritakan pengalamannya mencari ilmu saat masih usia remaja. Beliau memiliki guru bernama Syekh al-Khathib yang mengajarkan hadits Nabi di Madrasah al-Ahmadi. Syekh al-Khathib selalu berada dalam keadaan suci ketika mengajar hadits Nabi Muhammad ﷺ. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pengagungan kepada sabda Baginda Nabi yang diajarkan kepada murid-muridnya. Uniknya, beliau selalu merasakan kesulitan dalam menerangkan hadits ketika terdapat muridnya yang hadir dalam keadaan hadats besar.


Pernah suatu ketika Syekh al-Khathib menulis panjang lebar mengenai hadits Nabi di papan tulis. Anehnya, sewaktu Syekh al-Khathib hendak menerangkan tulisan di papan tulis lidahnya terasa kelu untuk berucap. Syekh al-Khathib pun merasa ada yang salah ketika itu. Berkali-kali beliau keluar dari kelas karena merasakan keanehan tersebut. Beliau pun mondar-mandir karena kebingungan setiap masuk ke dalam kelas untuk menerangkan selalu saja ada yang mengganjal di hatinya. Murid-murid Syekh al-Khathib pun merasa gusar: ada apa gerangan di balik kegundahan hati sang guru?


Setelah beberapa waktu kemudian, Syekh al-Khathib menghampiri salah satu muridnya. Dengan lemah lembut, Syekh al-Khathib menegur muridnya, “Wahai anakku, engkau telah mengahalangiku dari cahaya ilmu Nabi hari ini, keluarlah dari kelas ini! Jangan khawatir aku akan tetap menulis namamu dalam daftar hadir pelajaran hari ini.”


Maka, sang murid pun keluar dari kelas diikuti keheranan seluruh murid dalam ruangan tersebut. Dan Syekh al-Khathib memulai pelajaran hadits Nabi di hari itu dengan sangat lancar. Seolah-olah tidak ada kesulitan sedikit pun dalam mengajar di hari itu. Setelah diusut oleh murid-murid Syekh al-Khathib ternyata sang murid yang diperintahkan keluar dari kelas di hari itu sedang junub (hadats besar) dan ia tidak sempat mandi besar sebelumnya. Cerita ini termaktub dalam kitab Min al-Mawaqif al-Khalidah li ‘Ulama al-Azhar al-Syarif karya Ahmad Rabi’ Ahmad as-Sayyid (2017: 585).


Kisah ini mengingatkan kita dengan kisah Imam asy-Syafi’i saat belajar ilmu hadits di rumah Imam Malik. Saat muridnya itu datang, Imam Malik pun terlebih dahulu mandi, bersuci, mencukur kumis, memakai minyak wangi, serta memakai pakaian yang bagus sebelum membacakan hadits Nabi. Hal ini ditunjukkan sebagai pengagungan terhadap hadits Nabi yang akan ia baca.



Kisah ini juga mengingatkan penulis dengan suatu kisah nyata yang penulis alami. Pernah suatu ketika Dr. Ahmad Thaha Rayyan berpesan kepada kami agar memakai adab yang baik ketika mengaji kitab Shahih Bukhari kepada beliau. Hal ini dikarenakan, pernah suatu ketika ada seorang yang shalih yang berpesan kepada Dr. Ahmad Thaha Rayyan, “Wahai Syekh, aku tadi melihat Rasulullah ﷺ hadir dan duduk di dalam pengajianmu hingga selesai.” Mendengar hal tersebut meneteslah air mata Dr. Ahmad Thaha Rayyan. Beliau merasa sangat bahagia karena pengajiannya diperhatikan langsung oleh Baginda Nabi. Dan semenjak itu beliau sangat bersemangat mengajar kitab Shahih Bukhari terlepas dari kesehatannya yang semakin menurun.


Hadir di majelis ilmu dengan adab yang baik akan memberikan manfaat dan keberkahan kepada kita semua. Meskipun kita tidak paham dan hafal dengan ilmu yang diajarkan, setidaknya ada tujuh faedah yang akan kita dapatkan.


يقال من انتهى إلى العالم وجلس معه ولا يقدر على أن يحفظ العلم فله سبع كرامات. أولها ينال فضل المتعلمين. والثاني ما دام جالسا عنده كان محبوسا عن الذنوب والخطاء. والثالث إذا خرج من منزله تنزل عليه الرحمة. والرابع إذا جلس عنده فتنزل عليه الرحمة فتصيب ببركتهم. والخامس ما دام مستمعا تكتب له الحسنة. والسادس تحف عليهم الملائكة بأجنحتها رضا وهو فيهم. والسابع كل قدم يرفعه ويضعه يكون كفارة للذنوب ورفعا للدرجات له وزيادة في الحسنات.


“Diceritakan, barang siapa yang mendatangi seorang ulama dan duduk mengaji kepadanya—meski tidak dapat memahami ilmu yang disampaikan—setidaknya ia telah mendapatkan tujuh faedah, yaitu (1) ia mendapatkan keutamaan orang yang belajar. (2) Selama masih duduk bersama ulama, ia akan tercegah melakukan dosa dan kesalahan. (3) Ketika ia keluar dari rumahnya (untuk berangkat mencari ilmu) maka rahmat diturunkan untuknya. (4) Ketika ia duduk dengan ulama maka rahmat turun kepada ulama tersebut dan ia mendapatkan berkahnya. (5) Selama ia mendengarkan ilmu maka ditulis baginya kebaikan. (6) Malaikat mengepakkan sayapnya di atas majelis ilmu tersebut karena ridha dengan ilmu yang diajarkan. (7) Setiap langkah kaki yang ia angkat dan ia letakkan dihitung penghapus dosa dan pengangkat derajat serta tambahan kebaikan baginya” (Abu Laits Nashr bin Muhammad as-Samarkandi, Tanbih al-Ghafilin bi Ahadits Sayyidil Anbiya’ wal Mursalin [Beirut: Dar Ibnu Katsir, 2000], hal. 440).


Muhammad Tholhah al Fayyadl, mahasiswa jurusan Ushuluddin Universitas al-Azhar Mesir, alumnus Pondok Pesantren Lirboyo


Sumber : nu.or.id

Label:

PCNU Adakan Turba Untuk Evaluasi SISNU dan LAZISNU

Kegiatan Turba PCNU Grobogan dalam upaya peningkatan pendataan SISNU dan Perkembangan LAZISNU


Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Grobogan terus berupaya untuk meningkatkan pendataan SISNU dan pengembangan LAZISNU di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Strategi Turba (Turun ke Bawah) menjadi prioritas yang dilakukan oleh jajaran PCNU untuk memonitoring dan mengevaluasi pendataan SISNU serta upaya pengembangan LAZISNU. Kegiatan turba ini akan menyasar ke seluruh MWC NU se-Kabupaten Grobogan, dimulai dari MWC NU Tegowanu pada hari Jumat (17/3/2021) kemarin.


Pada saat pembinaan dan penguatan ini dihadiri secara langsung Rois syuriah KH. Hambali Mahfudz , Khatib Syuriyah KH. A. Baihaqi, Ketua Tanfidziyah KH. Abu Mansur dan jajaran tim ahli SISNU PCNU Grobogan Gus Syaidun, Kyai Muzammil dan Kang Jatmiko. Sementara dari MWC NU dihadiri oleh ketua Tanfidziyah  dan segenap jajaran pengurus serta ketua ranting dan operator ranting se Kecamatan Tegowanu.


Ketua Rois Syuriah PCNU Grobogan KH. Hambali Mahfudz menekankan, data SISNU ini sangat penting agar para jama'ah masuk kedalam Jam'iyyah NU. Sehingga organisasi akan semakin kuat dan program program bisa berjalan dengan baik.


Sementara Ketua Tanfidziyah KH. Abu Mansyur menyampaikan, Alhamdulillah PCNU Kabupaten Grobogan mendapatkan peringkat kedua sebagai PCNU terbaik se Jawa Tengah untuk itu mari pendataan ini terus kita tingkatkan.


Turba tersebut sekaligus memberikan Bintek SISNU kepada Operator MWC dan Ranting yang dipandu oleh Gus Syaidun dan Kyai Muzamil.


Gus Syaidun menyampaikan, pembinaan ini perlu dilakukan secara terus menerus mengingat target pendataan SISNU yang dicanangkan masih belum terpenuhi, sehingga kami perlu mendengar dan mencarikan solusi atas masalah yang dihadapi oleh operator masing masing ranting.


"Operator tambah semangat dalam berkhidmat lewat pendataan SISNU". Tandasnya


UPZISNU dimasing masing MWC juga menunjukan perkembangan yg signifikan. Adapun untuk jadwal Turba ini rencana nya dilaksanakan tiap hari Jum'at-Minggu dengan harapan sebelum puasa bulan Ramadhan semua MWC sudah bisa dikunjungi, tambah Gus Syaidun. (Fiq/PepaliNews)

Label: , ,

MWC NU Kradenan Serahkan Donasi kepada Korban Tanah Longsor

Jajaran MWC NU Kradenan dan PAC Fatayat NU Kradenan menyerahan Donasi Kepada Tiga Korban Tanah Longsong di Dusun Doro RT 04 RW 03, Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan

Kradenan/PepaliNews - MWC NU Kecamatan Kradenan terus memberikan perhatian kepada masyarakat yang mengalami bencana di Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan. Setelah beberapa Minggu lalu menggalang donasi untuk korban kebakaran. Kali ini MWC NU telah menggalang dana dan memberikan langsung kebada korban tanah longsor di Dusun Doro, Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan, pada Ahad (21/3/2021) Pukul 14.00 WIB.


Donasi yang terkumpul dan diserahkan langsung kepada tiga korban tanah longsor sebesar Rp. 7,3 Juta (Tujuh Juta Tiga Ratus Ribu Rupiah). Adapun ketiga korban tersebut adalah Sukirman, Sulistyo dan Sukarmini. Semuanya merupakan warga Dusun Doro RT 04 RW 03, Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan.


Penyerahan donasi dihadiri jajaran pengurus MWC NU Kradenan mulai dari K. Muslih, K. Kholil, K. Irham, KH. Rosyid, Gus Syaidun, K. Slamet Subekti dan Ketua PAC Fatayat Mansata Indah Maratona yang disaksikan oleh Sekretaris Desa Tanjungsari.


Dalam sambutannyanya KH. Abdul Rosyid yang mewakili pengurus MWC NU Kradenan menyampaikan bahwa donasi ini berasal dari warga NU se-Kecamatan Kradenan.


"Meski jumlahnya tidak banyak semoga memberikan manfaat kepada para Korban."tandasnya.


Ketua PAC Fatayat NU Kecamatan Kradenan Mansata Indah Maratona yang ikut mewakili penyerahan donasi dan meninjau langsung kondisi tanah longsor mengungkapkan, saat terjadi bencana pihaknya sudah menyampaikan kondisi tersebut kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Grobogan.


" Kami sudah menyampaikan kejadian ini kepada kepala BPBD dan Insya Allah nanti akan segera ditindaklanjuti oleh BPBD". tambahnya.


Sementara itu K. Kholil berharap, dengan banyaknya bencana yang menimpa masyarakat Kradenan belakangan ini, maka MWC NU akan mengaktifkan dan membentuk Lembaga Penanggulangan Bencana Indonesia (LPBI).


"Dengan adanya lembaga tersebut kegiatan yang terkait dengan bencana dapat dikelola dengan baik dikemudian hari."katanya,


Kegiatan kemudian diakhiri dengan pemberian donasi kepada ketiga korban dan diakhiri doa oleh K. Muslih selaku Rois Syuriah MWC NU Kradenan. (Fiq/PepaliNews)


Label: , ,

Rabu, 17 Maret 2021

Kisah Nabi Adam AS dan Iblis: Pesan untuk Menjauhi Rasisme

Ilustrasi | PepaliNews


Tak ada yang meragukan kehebatan Iblis. Ia dikenal sebagai makhluk yang memiliki banyak ilmu. Kehebatannya ini tidak ada yang menandinginya. Sayangnya, Iblis ini menjelma menjadi makhluk yang sombong alias takabbur, merasa paling hebat sejagat. Setidaknya, ada tiga hal yang membuatnya demikian.


Pertama, Iblis merupakan penghuni surga. Diriwayatkan dari Anas, Abu Shalih dari Ibnu Abbas dan Murrah al-Hamadani dari Ibnu Mas’ud mengatakan, bahwa Iblis merupakan bagian dari kabilah Malaikat. Dia disebut Jin karena menjadi penjaga surga (khuzzan al-jannah). Hal itu yang membuatnya menjadi makhluk yang takabbur. (Lihat Syekh Izzuddin ibn al-Atsir. Al-Kamil fit Tarikh. Juz 1. Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah. 2003. h. 24).


وَ كَانَ مِنْ قَبِيْلٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ يُقَالُ لَهُمْ الْجِنُّ وَ اِنَّمَا سُمُّوْا الْجِنَّ لِأّنَّهُمْ مِنْ خُزَّانِ الْجَنَّةِ وَكَانَ ﺇِبْلِيْسُ مَعَ مُلْكِهِ خَازِنًا فَوَقَعَ فِيْ نَفْسِهِ كِبْرٌ


Hal lain yang membuatnya sombong adalah keilmuannya yang tidak ada padanannya. Sayyidina Abdullah bin Abbas menyampaikan bahwa makhluk bernama ‘Azazil itu merupakan malaikat yang paling kuat dalam hal ijtihadnya dan paling banyak ilmunya. Namun, justru kehebatannya tersebut membawanya terlena menjadi sombong. (Lihat Syekh Izzuddin ibn al-Atsir, Al-Kamil fit Tarikh, Juz 1, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2003, h. 24).


قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: وَكَانَ اسْمُهُ "عَزَازِيْلُ" وَ كَانَ مِنْ أَشَدِّ الْمَلَائِكَةِ اجْتِهَادًا وَ أَكْثَرُهُمْ عِلْمًا فَدَعَاهُ ذٰلِكَ اِلَى الْكِبْرِ


Rasisme Iblis


Iblis juga takabbur karena fisiknya yang terbuat dari api. Dengan begitu, ia merasa lebih mulia dari Nabi Adam a.s karena terbuat dari tanah. Menurutnya, api lebih baik dari tanah sehingga enggan melaksanakan perintah Allah swt. untuk bersujud kepada Bapak manusia itu. Oh ya, perlu diketahui bahwa sujud di sini bukan berarti menempelkan dahi ke bawah sebagaimana yang kita lakoni saat shalat, melainkan membungkukkan badan seperti ruku’ dalam shalat sebagai bentuk penghormatan. Hal ini disebutkan Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Tafsir Jalalain (Kairo: Darul Hadits) saat menafsirkan Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 34.


(وَ) اذكر (إِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوْا لِآدَمَ) سُجُوْدَ تَحِيَّةٍ بِالْاِنْحِنَاءِ ...


Kesombongan Iblis tersebut juga terekam dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 12.


قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ


Dalam ayat itu, tejadi dialog antara Allah swt. Dengan makhluk laknatullah itu. Allah menanyakan perihal keengganan Iblis sujud kepada Nabi Adam. “Apa yang menghalangimu untuk bersujud kepada Nabi Adam a.s., sekalipun Akulah yang memerintahkanmu?”


“Aku lebih baik darinya. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya (Nabi Adam a.s.) dari tanah,” jawab Iblis.


Ya, dalam logika Iblis, api lebih baik dari tanah. KH Muhammad Abbas Billy Yachsyi, Pengasuh Pondok Buntet Pesantren Cirebon, dalam suatu ceramahnya di Jakarta Islamic Center pada Peringatan Malam Nuzulul Qur’an (29/7/2013), menyampaikan bahwa argumentasi Iblis menolak perintah karena tidak sesuai dengan nalar dan logika yang diyakininya benar.


Kiai yang menamatkan studi pendidikan tingginya di India itu menambahkan bahwa Iblis mengaku lebih senior dari Nabi Adam a.s. Hal ini selaras dengan apa yang ditulis Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Al-Tabari dalam Tafsir al-Thabari Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Qur’an, mengutip pernyataan Sayidina Abdullah bin Abbas, menyampaikan bahwa Iblis mengaku lebih baik, lebih senior, juga lebih kuat secara fisiknya.



فَقَالَ لَا أَسْجُدُ لَهُ, وَأَنَا خَيْرٌ مِنهُ, وَأَكْبَرُ سِنًّا, وَأَقْوَى خَلْقًا, خَلَقْتَنِيْ مَنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِيْنٍ يَقُوْلُ: إنَّ النَّارَ أَقْوَى مِنَ الطِّيْنِ.


“Iblis berkata: saya tidak sujud kepadanya (Nabi Adam a.s.), saya lebih baik darinya, lebih senior usianya, lebih kuat fisiknya. Engkau menciptakanku dari apai, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah. Sungguh, api lebih kuat dari tanah.” (Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Al-Tabari dalam Tafsir al-Thabari Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Qur’an. Juz 10. H. 87)


Dari sini, kita dapat melihat betapa rasisme sudah tumbuh sejak dulu dengan adanya sikap merasa dirinya lebih baik dari yang lain. Perasaan demikian harusnya dijauhi oleh kita sebagai seorang manusia, terlebih umat Nabi Muhammad saw. Suku, etnis, ataupun ras manapun semuanya sama. Tidak ada yang lebih baik dan lebih mulia. Jika masih menyimpan perasaan demikian, tentu berarti dia menjadi pengikut Iblis. Wal ‘iyadzu billah, semoga kita dihindarkan dari sifat demikian.


Orang mulia tidak dilihat dari sisi rasnya, bukan dari kesukuannya, bukan pula karena keilmuannya, ataupun disebabkan pangkatnya, melainkan dipandang dari ketakwaannya.  Hal ini disinggung Allah swt. dalam Al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 13.


...إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ...


“... Sungguh orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah swt. adalah yang paling bertakwa...”


Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita untuk meningkatkan ketakwaan diri. Hal ini harus dilakukan dengan tanpa merendahkan orang lain, atau menganggap diri paling baik. Sebab, sifat itulah yang dimiliki oleh Iblis. Tentu kita tidak mau disamakan dengan makhluk terlaknat itu bukan?


Muhammad Syakir NF, alumnus Pondok Buntet Pesantren Cirebon


Sumber : nu.or.id

Label:

Minggu, 14 Maret 2021

Buka Koin NU, UPZIS Ngaringan Peroleh Jutaan Rupiah

Pertemuan rutin Buka Koin MWC NU Ngaringan | PepaliNews

Ngaringan/PepaliNews - KOIN NU yang dikelola UPZIS (Unit Pengelola Zakat Infaq Sedekah) MWC NU Ngaringan pada bulan Maret 2021 mendapatkan Rp. 10,225 Juta (Sepuluh Juta Dua Ratus Dua Puluh Lima Ribu Rupiah) dari dua belas Ranting di Kecamatan Ngaringan. Perolehan ini diketahui saat pertemuan rutin Buka Koin MWC NU Ngaringan di Desa Pendem, Kecamatan Ngaringan di kediaman Sekretaris MWC NU Ngaringan K. Solehan pada Minggu siang, (14/3/2021).

Kegiatan yang dilaksanakan selapan sekali secara bergiliran setiap Ranting se-kecamatan ini selain sebagai media pelaporan hasil infaq koin NU juga sebagai pertemuan rutin untuk bersilaturahmi antar pengurus UPZIS se-Kecamatan Ngaringan juga sebagai koordinasi rutin dalam rangka menyelesaikan problematika gerakan KOIN NU yang muncul di lapangan.


Dalam sambutannya, Ketua MWC NU Ngaringan Ahmad Mochtar S.H menyampaikan bahwa tolok ukur keberhasilan kinerja UPZIS didasarkan pada penyusunan rencana kegiatan dan anggaran tahunan UPZISNU yang dibahas secara bersama-sama dan beliau berharap agar semua UPZIS tingkat ranting juga menyusun RKAT (Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan).

"Pengelolaan keuangan dilaksanakan satu pintu melalui UPZISNU Kecamatan ngaringan." Jelasnya.

Direktur Lazisnu Kabupaten Grobogan Syakiru Niam dalam pertemuan tersebut mengatakan, Lazisnu tidak hidup untuk dirinya sendiri, sebagai Amil ZISWAF (Zakat, Infak, Shadaqah dan Wakaf) harus bekerja secara profesional dan transparan.

"ZISWAF yang dikelola harus ditasarufkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan umat sesuai 5 pilar program NU care-LazisNU". tandasnya. (fiq/PepaliNews)

Label: , ,

Belajar dari Perdebatan Imam Syafi’i dan Sufyan Ats-Tsauri

Ilustrasi | PepaliNews

Kajian-kajian anti-fanatisme dan toleransi, baik dalam agama, mazhab, pemikiran, politik, dan lain-lain, harus selalu disuarakan. Sikap dan pemikiran yang fanatik lagi intoleran harus terus dikawal dan diredam, agar tak menjadi aib tersendiri bagi ajaran Islam yang rahmatan lil’âlamîn.


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata fanatik berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat terhadap ajaran politik, agama, dan lain-lain. Itu artinya, sikap fanatik sebenarnya baik. Karena apa yang salah bila hanya meyakini dan mempercayai sesuatu dengan kuat. Bukankah Islam sendiri melarang keras para pemeluknya untuk murtad? Jelas jawabannya benar demikian. Tetapi, yang membuatnya tidak baik yaitu ketika sikap atau fanatisme diekspresikan secara berlebihan.


Jadi, kata fanatisme saat ini, nyaris kehilangan maknanya. Bahkan, semakin kabur apakah fanatisme adalah ekspresi kecintaan atau kebencian. Parahnya, ketika beberapa oknum atau kelompok yang over fanatik ini, berdalih pada kecintaan terhadap agama atau mazhab yang dianutnya.


Perlu kita pahami bersama bahwa Islam tak pernah menganjurkan pemeluknya untuk fanatik  secara berlebihan. Apalagi sampai bersikap intoleran terhadap yang lain. Jadi, tidak benar bila dalih cinta agama menghalalkan intoleransi. Allah subhanahu wata’ala berfirman:


وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ  كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ


“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan,” (QS al-An’am: 108).


Penggalan pertama ayat di atas yang berbunyi, wa lâ tasubbul-ladzîna yad’ûna min dûnillâhi fayasubbullâha ‘adwam bighairi ‘ilm(in), “Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan,” mengajarkan kita, umat Islam, untuk bersikap toleransi serta bijaksana menyikapi keragaman yang ada. Bahkan dalam hal keyakinan. Artinya, kebenaran tetaplah akan menjadi sebuah kebenaran. Namun, jangan sampai kebenaran itu menuai perpecahan.


Ayat di atas turun berawal dari peristiwa ketika umat Muslim mencaci-maki berhala-berhala orang kafir. Lantas, mereka balik mencaci Tuhan orang Islam dengan berbagai sumpah serapah. Lalu Allah subhanahu wata’ala menurunkan ayat di atas.


Dalam rangka menumbuhkan sikap toleransi dan anti-fanatisme yang berlebihan, baik kiranya kita menyimak kisah inspiratif Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i dan Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri. Suatu ketika, dua imam besar ini dipertemukan dalam perdebatan yang sangat sengit. Keduanya sama-sama mempertahankan pendapat masing-masing disertai argumentasi yang kuat. Mereka berselisih tentang kulit bangkai yang bisa suci dengan disamak.


Menurut Imam asy-Syafi’i, kulit bangkai selamanya tidak dapat disucikan dengan cara disamak. Ia berdalil, dahulu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menulis surat kepada sahabat Juhainah yang isinya tentang larangan memanfaatkan kulit dan urat bangkai. Hal ini sebagaimana termaktub dalam kitab Tuhfah at-Thâlib bi Ma’rifati Mukhtashar Ibnu Hâjib (hal. 200), buah karya Imam Ibnu Katsir. Berikut redaksinya:


إنّي كنتُ رخّصتُ لكم في جلود الميتة فإذا جاءكم كتابي هذا فلا تنتفعوا من الميتة بإيهاب ولا عصب


“Sungguh, aku memang telah beri dispensasi kepada kalian tentang kulit-kulit bangkai (yang suci dengan disamak). Maka, ketika suratku ini telah kalian terima, maka jangan sekali-kali memanfaatkan kulit dan urat bangkai lagi,” (HR Abu Daud dan Ahmad).



Imam Sufyan ats-Tsauri justru berpendapat sebaliknya. Menurutnya, kulit bangkai bisa suci dengan cara disamak dengan dalil Hadits riwayat Abdullah bin Abbas radliyallahu ‘anh tentang bangkai seekor kambing sedekah yang diberikan kepada seorang mantan budak Maimunah. Saat itu, secara tidak sengaja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertemu dengan para sahabatnya yang hendak membuang bangkai kambing tersebut.


Nabi bersabda:


هلاّ أخذتم إهابها فدبغتموه فانتفعتم به؟ فقالوا: إنها ميتة. فقال: إنما حرم أكلها


“Mengapa tidak kalian ambil kulitnya, lalu menyamaknya sehingga bisa dimanfaatkan? Para sahabat menjawab, ‘Ini sudah jadi bangkai’. Lalu, nabi bersabda, ‘Bangkai itu hanya haram dimakan’,” (HR Muslim).


Singkatnya, Imam asy-Syafi’i dan Sufyan ats-Tsauri tetap kokoh dengan pendapatnya masing-masing. Namun menariknya, setelah lama merenung kembali, Imam asy-Syafi’i malah menarik pendapatnya dan lebih memilih pendapat Imam Sufyan ats-Tsauri. Demikian halnya Imam Sufyan, secara bersamaan juga menarik pendapatnya dan berpindah kepada pendapat asy-Syafi’i yang pertama.


Oleh karena itu, sampai saat ini, dalam kitab-kitab fiqih mazhab Syafi’i pasti ada pembahasan seputar kebolehan menyamak kulit bangkai dan memanfaatkannya. Hukum ini berawal dari perdebatan sengitnya dengan Imam Sufyan. Kisah bersejarah ini disadur dari kitab Syarh al-Yâqût an-Nafîs fi Madzhab Ibni Idris (hal. 63) karya habib Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiriy.


Adapun mutiara hikmah yang dapat kita teladani dari kisah inspiratif ini, bahwa dalam kaca mata para ulama terdahulu, tak sedikit pun noda fanatisme yang berlebihan dan intoleransi, apalagi hanya urusan berbeda pendapat. Tentu nyaris tak ditemukan. Jadi, dalam persoalan mencari kebenaran (ittibâ’ul haqq) para ulama as-salaf as-shâlih benar-benar membuka diri untuk menerima kebenaran, kapanpun dan dari manapun datangnya. Wallahu a’lam.


Ahmad Dirga, santri di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo, Jawa Timur


Sumber : nu.or.id

Label:

Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa Padepokan Ki Ageng Serang

Penyematan Tanda Peserta UKT Oleh Ketua PC Pencak Silat NU Pagar Nusa Grobogan, Gus Jibril | PepaliNews

Purwodadi/PepaliNews - Sebanyak 134 pendekar Pagar Nusa ikuti Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) yang diselenggarakan oleh Padepokan Pencak Silat NU Pagar Nusa Ki Ageng Serang, Cingkrong, Purwodadi pada Sabtu (13/3/2021) kemarin.


UKT itu sendiri diikuti oleh siswa-siswi dari berbagai tempat latihan dan Padepokan yakni Padepokan Honocoroko Gabus, Padepokan Ki Ageng Tarub Tawangharjo, Padepokan Ki Ageng Serang Purwodadi, PAC Tegowanu, PAC Wirosari, Padepokan Sunan Sayrif Hidayatullah Pulokulon.


Ketua PC Pencak Silat NU Pagar Nusa Kabupaten Grobogan Gus Jibril mengatakan, UKT ini sengaja membuka beberapa kelas yang berbeda, hal ini sebagai upaya untuk mewadahi siswa-siswi yang membutuhkan jenjang ujian.


UKT yang menjadi agenda di lingkungan Pagar Nusa telah mengesahkan 21 siswa kelas Sabuk Putih, 68 siswa kelas Sabuk Kuning, 39 siswa kelas Sabuk Biru, dan 6 siswa kelas Sabuk Hitam. Tambah Gus Jibril yang juga merupakan sesepuh Padepokan Ki Ageng Serang.



Diwarnai hujan deras, peserta digembleng menggunakan beberapa materi sesuai kelasnya, baik materi pengetahuan tentang kepagarnusaan maupun materi fisik. Tak Heran salah seorang siswi pingsan disebab kecapaian. Panitia pelaksana bertindak sigat langsung membawa ke klinik kesehatan terdekat. Tak berselang lama kemudian peserta siuman dan kembali ke tempat UKT.


Sebagai puncak acara, malam itu dilaksanakan ijazah kubro dan peringatan isra' mi'raj yang dihadiri oleh KH. Ruslin dari Demak. (Fiq/PepaliNews)


Upacara Pembukaan UKT Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa Padepokan Ki Ageng Serang

Label: , ,

Rabu, 10 Maret 2021

Peristiwa Isra' Mi'raj dan Shalat

Ilustrasi Isra' Mi'raj dan Shalat | PepaliNews
 

Isra' dan Mi’raj Nabi Muhammad saw adalah peristiwa yang sangat agung, dari peristiwa tersebut Nabi memperoleh berbagai macam pengalaman dan pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi kelengkapan dirinya, untuk mengemban tugas yang berat sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta.

 

Pengetahuan dan pengalaman yang paling berharga dalam peristiwa tersebut adalah berkaitan dengan memahami tanda-tanda kebesaran Allah swt. Baik kebesaran yang ada di alam raya ini yang dapat ditangkap oleh panca indra, maupun dalam alam ghaib yang tidak dapat dijangkau oleh indera manusia.

 

Isra', pengertiannya menurut bahasa adalah perjalanan di malam hari (al-Munawwir: 1984: 671), sedangkan mi’raj adalah tangga untuk naik ke atas (al-Munawwir: 1984: 981).

 

Karena itu pengertian Isra yang dimaksudkan adalah perjalanan Nabi Muhammad saw dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsa, sedangkan Mi’raj adalah perjalanan beliau dari Masjid al-Aqsa ke Sidrah al-Muntaha. Sidrah al-Muntaha adalah tempat di langit yang bersifat ghaib, tidak mungkin dijangkau oleh panca indera manusia, bahkan tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran.

 

Di antara tujuan diisarakannya Nabi Muhammad saw, adalah agar beliau mengetahui secara mendalam tanda-tanda keagungan Tuhan, kekuasaan dan kasih sayang-Nya terhadap semua makhluk, peristiwa ini disebutkan dalam Al-Qur’an:

 

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ  

 

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami memperlihatkan kepadanya dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS Al-Isra [17]: 1)

 

Dalam peristiwa Isra' Mi’raj, sebagaimana disebutkan berbagai kitab tarikh dan kitab hadits, Nabi Muhammad saw dan umatnya diperintahkan untuk melaksanakan shalat lima waktu sehari-semalam. (Nur al-Yakin, hal. 67 dan Nabi al-Rahmah, 54). Peristiwa Isra' Mi’raj menurut para ahli sejarah, selain disebutkan dalam kitab al-Hadits juga diisyaratkan Al-Qur’an pada awal surat al-Najm:

 


وَٱلنَّجۡمِ إِذَا هَوَىٰ مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمۡ وَمَا غَوَىٰ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ ذُو مِرَّةٖ فَٱسۡتَوَىٰ وَهُوَ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّىٰ فَكَانَ قَابَ قَوۡسَيۡنِ أَوۡ أَدۡنَىٰ فَأَوۡحَىٰٓ إِلَىٰ عَبۡدِهِۦ مَآ أَوۡحَىٰ  

 

“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauannya sendiri melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya. Yang diwahyukan kepadanya oleh Jibril yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cedas dan Jibril itu menampakkan diri dalam bentuk yang asli, sedang ia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu ia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan”. (QS Al-Najm [53]: 1 –10)

 

Dengan diperintahkannya shalat lima waktu bagi Nabi Muhammad saw dan umatnya pada malam Isra' Mi’raj tersebut, dirasakan betapa pentingnya ibadah shalat harus ditegakkan oleh setiap pribadi Muslim. Dalam Al-Qur’an banyak disebutkan perintah agar menegakkan shalat, perintah itu diulang berkali-kali sampai lebih dari delapan puluh kali. Di dalam hadits juga banyak disebutkan agar setiap muslim mengerjakan shalat dengan baik, di mana saja mereka berada. 

 

Shalat merupakan salah satu rukun Islam yang lima dan sangat menentukan kualitas keimanan seorang muslim, apakah kuat atau lemah. Kalau kita rajin mengkaji ayat demi ayat dari Al-Qur’an dan al-Hadits maka akan dijumpai berbagai pengarahan agar manusia muslim dapat mengerjakan dan menegakkan shalat dengan baik.

 

Shalat yang baik dan benar adalah shalat yang dikerjakan dengan memenuhi syarat dan rukunnya serta ketentuan-ketentuan lainnya, diikuti dengan gerakan kejiwaan dan disertai rasa khusu’ dan keikhlasan yang mendalam. 

 

Pengertian shalat menurut etimologi adalah doa dan pujian, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

 

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا    

 

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya memuji Nabi, wahai orang-orang yang beriman, berdoalah untuk Nabi dan ucapkanlah salam kehormatan kepadanya," (QS Al-Ahzab [33]: 56)

 

Shalat dalam arti doa disebutkan Al-Qur’an:

 

وَصَلِّ عَلَيۡهِمۡۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٞ لَّهُمۡۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ  

 

“Dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka." (QS Al-Taubah [9]: 103)

 

Pengertian shalat menurut terminologi adalah:

 

أَقْوَالٌ وَأَفْعَالٌ مَخْصُوْصَةٌ مُفْتَتِحَةٌ بِالتَّكْبِيْرِ مُخْتَتِمَةٌ بِالتَّسْلِيْمِ بِشَرَائِطَ مَخْصُوْصَة

 

“Ibadah yang terdiri dari beberapa ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dengan syarat dan rukun tertentu”.

 

Pengertian di atas, baru menggambarkan bentuk shalat secara lahiriyah. Agar melengkapi semua itu, kita ikuti definisi shalat dari segi hakikatnya yaitu:

 

“Menghadapkan hati kepada Allah sehingga dapat mendatangkan rasa takut kepada-Nya dan menanamkan dalam jiwa rasa keagungan-Nya dan kesempurnaan-Nya”.

 

Shalat yang sempurna adalah shalat dengan kriteria di atas, shalat yang dilakukan dengan memenuhi syarat, rukun dan ketentuan lain serta diikuti dengan gerakan kejiwaan. Dengan demikian ibadah shalat itu akan berdampak pada sikap mental kita dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang telah melakukan shalat dengan baik dapat mencegah dirinya dari perbuatan keji dan munkar.

 

Dengan ketentuan-ketentuan shalat yang disebutkan di atas, insya Allah kita akan terhindar dari segolongan orang yang mengerjakan shalat, tetapi pada hakekatnya mereka tidak shalat. Nabi Muhammad saw menyitir kelompok ini dalam salah satu hadisnya:

 

يأَتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يُصَلّوْنَ وَلاَ يُصَلُّوْنَ (رواه أحمد)

 

“Akan datang suatu masa menimpa manusia, banyak yang melakukan shalat, padahal sebenarnya mereka tidak shalat”. (HR Ahmad, No. 47)

 

Dengan memperingati Isra' Mi’raj ini, semoga kita dapat meningkatkan shalat kita sebaik mungkin, sehingga dapat meningkatkan takwa kepada Allah swt.

 

KH Zakky Mubarak, Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

Sumber : nu.or.id

Label:

MWC NU KRADENAN SALURKAN BANTUAN KORBAN KEBAKARAN SIMO

Penyerahan Donasi Oleh Pengurus MWC NU dan Banom NU Kradenan kepada Korban Kebakaran Simo | PepaliNews

 

Kradenan | PepaliNews - Kebakaran hebat yang menimpa warga Dusun Bentulan, Desa Simo, Kecamatan Kradenan pada Rabu (4/3/2021) lalu, mendapat perhatian dari berbagai pihak. Diantaranya Pengurus MWC NU dan Banom NU Kradenan yang membuka donasi serta menyerahkan kepada korban kebakaran pada Selasa petang pukul 20.00 WIB (9/3/2021).

 

Donasi yang berhasil dikumpulkan dan diserahkan langsung kepada korban sebanyak Rp.12,4 Juta (Dua belas juta empat ratus ribu rupiah). Donasi ini terkumpul dari beberapa pengurus Ranting dan Banom yang ada dibawah naungan MWC NU Kecamatan Kradenan.

 

Penyerahan dipimpin langsung oleh K. Kholil Mashuri selaku Ketua MWC dan didampingi segenap Pengurus Banom. Hadir diantaranya perwakilan Pengurus Muslimat, Fatayat, Ansor-Banser, IPNU-IPPNU dan jajaran Syuriah MWC NU Kradenan.

 

Saat penyerahan K.Kholil menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh warga NU yang telah ikut berdonasi dan berpesan kepada korban kebakaran agar terus bersabar dalam menghadapi cobaan dari Allah SWT.

 

Penyerahan Donasi Oleh Pengurus MWC NU dan Banom NU Kradenan kepada Korban Kebakaran Simo | PepaliNews

Label: , ,

Minggu, 07 Maret 2021

Ketua Baru PKB Grobogan, K. Mustain Targetkan Kenaikan Kursi

Pengurus Baru DPC PKB Grobogan periode 2021-2026 | PepaliNews

 

Grobogan/PepaliNews – Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Grobogan berganti dari HM Nurwibowo ke K. Mustain. Estafet Kepemimpinan tersebut berdasarkan hasil Muscab Serentak yang digelar di Hotel Kyriad, Purwodadi, Sabtu (6/3/2021) kemarin.

 

Turut hadir sebagai tamu undangan ketua Tanfidziah PCNU Grobogan Drs. Abu Mansur dan Katib Syuriyah K.H. Ahmad Baihaqi Saat pembukaan Muscab dimulai.

 

Terpilihnya K. Mustain sebagai Ketua DPC PKB Grobogan periode 2021-2026 tidak melalui voting atau pemungutan suara. Namun berdasarkan usulan dari PAC-PAC  ke DPP PKB dan kemudian dimusyawarah mufakatkan bersama-sama.

 

Selain K. Mustain, ada nama KH Musyafa’ Zain sebagai Ketua Dewan Syuro dan Sya’roni Dimyathi sebagai Sekretaris Dewan Syuro. Kemudian Sekretaris DPC PKB Grobogan, Mukhilisin dan Bendahara DCP PKB, Mansata Indah Maratona.

 

Seusai Muscab, Ketua DPC PKB Grobogan terpilih K. Mustain mengatakan, siap meneruskan kinerja yang sudah dilakukan HM Nurwibowo selama empat periode sebelumnya dan penataan organisasi.

 

Lebih lanjut, berbicara soal Pemilu 2024 mendatang. K. Mustain akan menargetkan kenaikkan perolehan kursi di DPRD Grobogan.

 

“Saat ini, perolehan di DPRD Grobogan ada tujuh kursi. Pemilu 2024, kita menargetkan harus naik jadi 10 kursi. Jadi, kita usahakan tiap dapil dapat dua kursi,” kata K. Mustain.

 

Sementara itu, HM Nurwibowo mengatakan, dirinya memang tidak ingin maju lagi sebagai ketua. Sebab, ia sudah sekitar 22 tahun jadi pengurus DPC. Di mana, 20 tahun di antaranya menjabat sebagai Ketua DPC PKB Grobogan dan dua tahun menjadi bendahara.

 

“Jadi sudah saatnya ada figur baru untuk posisi ketua . Pak Mustain saya kira merupakan sosok yang tepat untuk jabatan tersebut. Saya optimis, di bawah kepemimpinan Mustain dan dukungan seluruh kader partai, PKB Grobogan bisa menjadi lebih baik lagi,” imbuhnya.

 

Serah Terima Estafet Kepemimpinan DPC PKB Grobogan secara Simbolis oleh HM. Nurwibowo kepada K. Mustain | PepaliNews

 

Saat dimintai tanggapan atas terpilihnya menjadi Bendahara DPC PKB Grobogan, Mansata Indah Maratona mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada semua pihak terutama doa dan restu dari para Kiai dan semoga tambah bermanfaat untuk masyarakat terutama warga Nahdliyyin di Kabupaten Grobogan. (Fiq/PepaliNews)

Label: , ,

PEDULI SESAMA, MWC DAN BANOM NU KRADENAN BUKA DONASI KEBAKARAN SIMO

Kondisi rumah saat terbakar | PepaliNews

Kradenan/PepaliNews - Paska terjadinya kebakaran yang melanda rumah milik Ibu H. Yati Pengurus Muslimat dan Bapak Sagiyanto Ketua LTM NU Ranting Desa Simo Kecamatan Kradenan pada Rabu, (3/3/2021) lalu.  Jajaran pengurus MWC NU Kecamatan Karadenan terus bergerak cepat untuk menggalang bantuan donasi yang nantinya akan diperuntukkan bagi korban kebakaran.


Instruksi tersebut disampaikan oleh ketua MWC NU Kradenan KH. Muhammad Kholil Mashuri melalui pesan singkat kepada warga NU di Kec Kradenan sehari setelah terjadinya kebakaran. Selain menginstruksikan penggalangan dana, pengurus mwc juga menginstruksikan kepada Pengurus ranting setempat dan jajaran Banom NU, yakni Ansor, Banser dan IPNU-IPPNU untuk membersihkan puing-puing sisa kebakaran.



"Bantuan tersebut ditujukan untuk korban kebakaran Simo yang harta bendanya ludes terbakar tanpa tersisa kecuali Papan Nama Pengurus Muslimat Ranting Simo." Tambahnya.



Salah satu Banom NU, Fatayat NU Kecamatan Kradenan usai mendapatkan pengarahan dari jajaran MWC maka langsung bergerak melakukan penggalangan donasi melalui jejaring Fatayat ranting di seluruh kecamatan.



"Kami sudah instruksikan kepada seluruh Pengurus Ranting Fatayat se Kecamatan Kradenan untuk melakukan penggalangan dana selama satu minggu kedepan. Hasil penggalangan dana akan kita serahkan melalui MWC Kradenan serta untuk memastikan keadaan korban baik-baik saja tadi siang saya juga sudah mengunjungi dua korban kebakaran tersebut " Ungkap Mansata Indah Maratona ketua PAC Fatayat Kradenan.

 

Ketua PAC Fatayat NU Kradenan/Anggota DPRD Grobogan, Mansata Indah Maratona saat mengunjungi korban kebakaran Simo

Label: , ,

Ketika Imam Syafi'i Tidak Qunut di Masjid Imam Hanafi

Ilustrasi | PepaliNews

Qunut dalam mazhab Syafi’i merupakan salah satu sunnah ab’adl dalam shalat Subuh. Jika seseorang meninggalkannya, baik secara sengaja ataupun karena lupa, sunnah baginya untuk melakukan sujud sahwi di akhir shalat.

 

Sebagai informasi, qunut secara bahasa berarti pujian. Secara istilah syara’, qunut diartikan sebagai sebuah dzikir khusus yang mengandung pujian dan doa. (lihat: Syekh Abdullah bin Hijazi bin Ibrahim, Hasyiyah Asy-Syarqawi, Beirut: Dar El-Fikr, h. 190).

 

Imam Taqiyuddin al-Dimasyqi menyebutkan bahwa kesunnahan qunut ini didasarkan pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa Anas bin Malik ra., berkata, “Rasulullah saw. Selalu membaca qunut pada shalat Subuh hingga wafatnya.” (lihat Kifayatul Akhyar Juz 1, Beirut: Dar El-Fikr, h. 93).

 

Qunut dilakukan saat berdiri i’tidal, sebagian riwayat menyebut sebelum ruku’. Namun, cara pertama lebih banyak riwayat yang menyatakannya, lebih terjaga, dan lebih utama.

 

Bahkan, dalam kitab Al-Raudlah disebutkan bahwa cara kedua tersebut tidak cukup sehingga orang yang melakukannya sunnah sujud sahwi. Seorang yang berqunut disunnahkan untuk mengangkat tangan, tanpa mengusapkannya ke dada ataupun wajahnya setelah selesai melakukannya.

 

Lepas dari perbedaan pandangan itu, suatu ketika, Imam Syafi’i pernah tidak melakukan qunut saat melaksanakan shalat Subuh di Masjid Agung Abu Hanifah yang terletak di dekat makam Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit atau yang dikenal Imam Hanafi. Ia memang sengaja melakukan hal tersebut, tidak dalam keadaan lupa.

 

Thaha Jabir Fayyadl al-Alwani menceritakan dalam kitabnya yang berjudul Adabul Ikhtilaf fil Islam (Pimpinan Mahkamah Syar’iyah dan Urusan Agama, Qatar, h. 119), bahwa Imam Syafi’i ditanya perihal alasannya tidak berqunut. Ulama asal Palestina yang wafat di Mesir itu menjawabnya berikut.


اُخَالِفُهُ وَ اَنَا فِيْ حُضْرَتِهِ

 

“(Bagaimana) aku mempertentangkannya, sementara aku berada di hadapannya.”

 

Ia pun kembali menyampaikan alasannya kenapa tidak berqunut.



رُبَمَا انْحَدَرْنَا اِلَى مَذْهَبِ اَهْلِ الْعِرَاقِ

 

“Terkadang, kami mengikuti madzhabnya penduduk Irak.”

Dalam riwayat lain, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menceritakan dalam kitabnya yang berjudul At-Tibyan fin Nahyi ‘an Muqathi’atil Arham, wal Aqarib, wal Ikhwan, bahwa Imam Syafi’i menziarahi Imam Hanafi selama tujuh hari dengan membaca Al-Qur’an.

 

Setiap kali mengkhatamkannya, ia menghadiahkan pahalanya untuk Imam Hanafi. Saat melaksanakan shalat Subuh di Masjid Imam Hanafi, ulama bernama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Idris al-Syafi’i itu tidak membaca qunut karena menjaga adab terhadap sosok Imam Hanafi.


لِاَنَّ الْاِمَامَ اَبَا حَنِيْفَةَ لَا يَقُوْلُ بنَدْبِ الْقُنُوْتِ فِيْ صَلَاةِ الصُّبْحِ فَتَرَكْتُهُ تَأَدُّبًا مَعَهُ

 

“Karena Imam Hanafi tidak menyebut qunut sebagai suatu sunnah pada shalat Subuh, maka saya meninggalkannya karena menjaga adab kepadanya.”

 

Dari kisah ini, kita dapat mengambil beberapa pelajaran. Pertama, kita melihat bahwa betapapun berbeda pandangan dengan Imam Hanafi, Imam Syafi’i tetap menjunjung tinggi adabnya. Ya, sikapnya demikian itu merupakan bentuk wujud penghormatan atau penghargaannya terhadap pandangan Imam Hanafi yang notabane bukan saja ulama biasa, tetapi juga guru dari gurunya, Imam Malik. 

 

Kita tentu pernah mendengar sebuah adagium, adab lebih tinggi daripada ilmu. Di sinilah letaknya, Imam Syafi’i menerapkan hal tersebut. Ia tetap menunjukkan posisi akhlaknya di atas dari ilmu yang dimilikinya. Dalam kondisi tersebut, ulama yang berusia 54 tahun itu meletakkan ilmunya di bawah adabnya.

 

Oleh karena itu, kita sudah sepatutnya mengikuti akhlak Imam Syafi’i, yakni menghormati pandangan orang lain yang berbeda dengan kita, tidak malah menghakimi sendiri, membenci, mencaci, atau memakinya.

 

Perbedaan merupakan rahmat yang patut disyukuri, tidak perlu dipertentangkan dan merasa pandangannya paling benar, sedangkan yang lain salah. Ulama sekaliber Imam Syafi’i saja bersikap demikian, bagaimana dengan kita? Semoga dapat meneladaninya.

 

Kedua, perbedaan tidak perlu dihadap-hadapkan dengan menganggap satu pandangan benar, sedangkan yang lainnya salah. Kita boleh memilih pandangan siapa saja, baik Imam Syafi’i, Imam Hanafi, ataupun ulama lainnya. Semuanya memiliki pijakan dalil dan manhaj berpikir sendiri yang dapat dibenarkan secara hukum.

 

Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) KH Abdul Moqsith Ghazali pernah menyampaikan, dalam pengajian kitab Syarh al-Waraqat, bahwa perbedaan di antara para ulama disebabkan dua hal, yakni pemilihan dalil dan pemahaman terhadap dalil. Kita sebagai awam tinggal mengikuti pandangan mereka.

 

Muhammad Syakir NF, alumnus Pondok Buntet Pesantren Cirebon

Sumber : nu.or.id

Label: ,

Sabtu, 06 Maret 2021

LURAH BANJAREJO PIMPIN DUNIA PERSILATAN PAGAR NUSA PAC GABUS

Dari kiri : K. Ahmad Sahal (Ketua MWC NU Kec. Gabus ), Gus Jibril (Ketua Pagar Nusa Kab. Grobogan), Ketua terpilih - (H. Achmad Taufik), Pengurus Pagar Nusa Kab. (K. Sholekan) dan Ketua Pagar Nusa sebelumnya ( Warsito S.Pd)  |  PepaliNews

Gabus - Kepala Desa Banjarejo Kecamatan Gabus Kabupaten Grobogan, H. Achmad Taufik, yang  secara resmi terpilih sebagai Ketua Pencak Silat Nahdlatul Ulama' Pagar Nusa Kecamatan Gabus tahun 2021 dan seterusnya pada Konferensi Anak Cabang atau disingkat Konferancab Pencak Silat NU Pagar Nusa yang berlangsung Sabtu, (6/3/2021),  

Saat Pimpinan Sidang membacakan keputusan hasil musyawarah mufakat, peserta sidang sepakat H. Acmad Taufik memimpin Pencak Silat Pagar Nusa Kecamatan Gabus Kabupaten Grobogan dan sekaligus menggantikan posisi Warsito, S.Pd sebagai ketua periode sebelumnya.


Dalam penjaringan sebelumnya, muncul tiga nama bakal calon ketua diusung oleh peserta saat Konferansi berlangsung di Gedung Serba Guna MWCNU Kecamatan Gabus. 


Pertama, Riyanto, Ketua Padepokan Keong Mas dan aktif di anggota Pasukan Inti Pagar Nusa, Kedua, Muhklisin, S.Thi. Pelatih Utama Pagar Nusa dan Pelatih Nasional, dan Ketiga, Ketua terpilih yang sebelumnya menjabat Wakil Ketua MWCNU Kecamatan Gabus. 


Para Bakal Calon tersebut bersepakat untuk tidak dilakukan voting dan memilih musyawarah mufakat sesuai Tata Tertib Konferensi.


Konferancab I Pencak Silat NU Pagar Nusa Kecamatan Gabus dihadiri oleh Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Grobogan, Gus Jibril, Ketua MWCNU Kecamatan Gabus, Gus Sahal, Jajaran Pengurus Pencak Silat NU Anak Cabang Kecamatan Gabus dan Pimpinan Ranting Pencak Silat NU Pagar Nusa se Kecamatan Gabus. Sebagai agenda organisasi, Konferancab I Pencak Silat NU Pagar Nusa berlangsung hangat dan, hal ini tidak lepas dari budaya persaudaraan yang dikembangkan di tubuh organisasi Pagar Nusa. 


Dalam sambutannya, H. Achmad Taufik menyatakan kesiapannya untuk mengelola dan menciptakan iklim guyup rukun baik antar sesama anggota Pagar Nusa atau sesama Perguruan Pencak Silat di luar Pagar Nusa. (kwl/Pepalinews)


Label: , ,